Yuk Ta’aruf ! Jilid 2 – Jodohku –

Pertemuan adalah pilihan, Perpisahan adalah keputusan
Dan Jodoh adalah harmoni dari pilihan terbaikku dengan keputusan terakhir dariku
Karena pilihan tak ada yang sempurna, begitupun keputusan tak sepenuhnya terbaik

Hai sahabat, banyak sekali yang bertanya bagaimana caranya menjemput jodoh paling cepat atau bagaimana caranya menemukan pasangan yang tepat ?. Sebelum kita membahas tentang hal tersebut, bagi sahabat yang belum tahu tentang jodoh itu apa hehehee (biar hatimu adem kalau ada yang tanya mana jodohmu) yuk baca artikel kami sebelumnya tentang setapak takdir jodoh
Then, kita bahas yuk tentang serial jodoh selanjutnya. Yuk Taaruf !

Memang Urusan jodoh itu sering tak terduga. Yang disangka itu jodoh kita, eh…. malah pergi meninggalkan kita. Tapi justru yang tak diduga datang begitu saja. Setiap saya bertanya pada beberapa Sahabat yang sudah menikah, rata-rata mereka menjawab, “Gak nyangka, ternyata saya berjodoh dengan orang ini”. Ada yang baru kenal sebulan, seminggu, atau beberapa hari saja. Ada yang tak sengaja bertemu, namun berjodoh. Ada juga yang disengajakan untuk bertemu dan berjodoh. Beberapa kadang dipaksakan untuk berjodoh, walau tentu takdir-Nya yang akan menjawab.

Dalam Islam tidak ada kata yang spesifik menunjukkan jodoh tapi dalam Islam digunakan kata pasangan. Setiap manusia diciptakan berpasangan maksudnya laki-laki dan perempuan. Namun, diberikan kebebasan untuk memilih dan berikhtiar agar mendapat takdir yang terbaik.

Pertemuan adalah pilihan, Perpisahan adalah keputusan
seperti aku memilih bertemu denganmu diantara jutaan manusia
dan biarkan takdir yang memutuskan pernikahaan ataukah kematian yang menjadi akhir dari pertemuan ini.

Jodoh adalah masalah kecocokan jiwa Dan kesiapan untuk hidup bersama dalam suka dan duka Menerima kelebihannya, juga memaklumi kekurangannya Bukan titik yang menciptakan tinta, tapi tintalah yang menyebabkan titik. Bukan cinta yang membuat jadi cantik, tapi karena cintalah ia terlihat cantik Urusan jodoh itu sering tak terduga.

Pasangan itu akan hadir saat waktu yang tepat, tugas kita adalah memperbaiki diri agar mendapat pasangan yang terbaik. Jadi bukan masalah siapa jodoh saya atau kapan saya bertemu dengan jodoh saya tapi masalah mengapa saya bertemu jodoh saya dan bagaimana cara saya mendapatkan jodoh saya. Sehingga fokusnya adalah meluruskan niat bahwa apapun yang kita ikhtiarkan adalah dalam rangka ibadah kepada Allah dan pastikan bentuk ikhtiar kita tidak bertentangan dengan syariat Islam.

So, tinggal memilih, mau mendapatkan yang terbaik dengan memperbaiki kualitas diri atau mendapatkan ala kadarnya akibat ketidakseriusan kita. Sahabat pilih yang mana? Akan ada suatu masa kita mesti memilih dari beberapa pilihan untuk menjadi pasangan dalam kehidupan. Ia yang akan menua denganmu. Ia yang kau pilih menjadi belahan jiwamu. Ia yang akan menjadi patner hidupmu.

Maka, jangan kau pilih karena nafsu. Karena itu pasti semu. Kekayaan pasti sirna, kecantikan ada batasnya, kemahsyuran tak kan selamanya. Pilihlah karena taqwa, niscaya hidupmu akan mulia. Saat diuji kelapangan kau tak jumawa. Syukur senantiasa melingkari dada. Saat diuji kesulitan kau tak putus asa. Sabar senantiasa merasuk dalam jiwa.

Yuk Ta’aruf !

Ta’aruf berasal dari ta’arrofa yang artinya menjadi tahu, yang asal akarnya ‘a-ro-fa yang berarti mengenal-perkenalan. Mengenai makna dasar ta’aruf diperkuat dengan penjelasan Al-Qur’an Surah Al-Hujurah ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ الله أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ الله عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Yang artinya:“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku lit a’ārafū (supaya kamu saling kenal)… sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi amah mengenal.”(QS. Al-Hujurat : 13).
Pengalaman menemukan makna cinta merupakan sebuah peristiwa pengalaman yang unik bagi individu. Erikson (Hall & Lindzey, 1993). Proses penemuan makna cinta dalam proses ta’aruf memiliki dinamika yang khas dan unik dibandingkan dengan proses pacaran pada umumnya menuju pernikahan. Menurut Hana (2012), ta’aruf adalah proses perkenalan dalam rangka mengetahui lebih dalam tentang calon suami atau istri. Sedangkan ta’aruf dalam bahasa arab artinya saling mengenal. Ta’aruf bertujuan untuk mengenal agama dan akhlak dari calon pasangan. Hal ini termasuk diperbolehkan dengan melakukan interaksi dengan syarat yaitu tidak berkhalwat, dan menjaga topik pembicaraan sehingga tidak membuka pintu perbuatan haram (Hasbullah, 2012).
Hidayat mengutip dari Sukamdiarti bahwa ta’aruf adalah komunikasi timbal balik antara laki-laki dan perempuan untuk saling mengenal dan saling memperkenalkan diri. Fenomena ta’aruf yang didenotasikan suatu ritual pranikah adalah sebagai berikut:


a) Saling tukar menukar data diri sebagai perkenalan pertama, bahkan dengan bertukar foto masing-masing.


b) berjumpa pertama kali atau “melihat”. “melihat” inilah yang sebenarnya sesuai sunnah Nabi SAW, sebab Beliau SAW ketika salah seorang menyatakan akan menikah dengan si fulanah, beliau bertanya apakah sudah pernah melihat fulanah tersebut? Kemudian Beliau menganjurkan sahabat tersebut untuk melihatnya, dengan alasan: “karena melihat membuat engkau lebih terdorong untuk menikahinya”.


c) Proses dilanjutkan dengan “hubungan” dengan maksud memperjelas perkenalan, yaitu mungkin dengan surat menyurat, sms atau telepon atau pertemuan lain dengan komposisi yang sama.


d) Selanjutnya kedua pihak mulai melibatkan orang tua,


e) Jika sudah bicara teknis artinya sudah dalam proses menuju pernikahan.

Frankl (1963) mengemukakan bahwa cinta adalah tujuan tertinggi yang dapat dicapai manusia. Tujuan ini yang mendasari manusia untuk terus menemukan makna dari kehidupan yang dijalani. Individu dapat saling memberikan dukungan, saling membantu dalam mengatasi kesulitan bersama ataupun masing-masing, dan dapat saling meningkatkan keyakinan diri individu untuk menemukan makna hidup melalui cinta kasih (Iriana, 2005). Dengan mencintai orang lain, individu dapat membuat orang yang dicintainya menemukan maknanya sendiri dan dengan melakukan hal itu, individu sendiri menemukan makna bagi kehidupannya sendiri.
Cinta yang tersusun atas komitmen, keintiman dan hasrat menjadikan individu dapat menumbuhkan cinta pada pasangannya. Pencarian individu terhadap cinta dan pasangannya melalui metode ta’aruf dengan segala proses yang dijalani di dalamnya diharapkan dapat memunculkan nilai-nilai yang memberikan makna pada kehidupan individu. Hal tersebut yang mendorong ketertarikan peneliti untuk meneliti bagaimana penemuan makna cinta pada individu yang menikah melalui proses ta’aruf.