LOVE MYSELF ; Self-Care is Not Selfish

SELF-CARE FILLS YOU UP SO THAT YOU CAN BE PRESENT FOR THE OTHER PEOPLE IN YOUR LIFE AND SO THAT YOU HAVE THE ENERGY TO MAKE THE TYPE OF IMPACT YOU WANT TO MAKE IN THE WORLD.” – Joanna Platt

Hai Sahabat Heartenly
Berbicara mengenai cinta tidak akan pernah bosan di telinga. Saya teringat tentang bagaimana Erich Fromm mengambarkan cinta sebagai sebuah Seni paling menakjubkan yang Tuhan hadirkan dalam diri manusia. Dalam The Art of Loving karya Erich Fromm seorang Psikoanalisis berkebangsaan Amerika, Bagi Fromm cinta adalah seni. Karena itu, cinta merupakan sesuatu yg dapat dipelajari. Cinta tidak hadir secara alamiah;Ia bukanlah sesuatu yang kita lakukan secara naluriah. Mencintai adalah keterampilan yang harus dipelajari dan dipraktekkan dlm kebiasaan sehari-hari secara aktif.
Banyak diantara kita telah tertanam suatu ide bahwa kita memiliki hak untuk dicintai oleh orang lain Imbasnya, kita memiliki kecenderungan untuk selalu menunggu, secara pasif, hadirnya orang lain untuk mencintai kita, dan selanjutnya kita merasa diperlakukan tidak adil ketika tidak ada orang lain yang mau perduli atas diri kita. Kebalikan dari itu, agar cinta senantiasa hadir, seseorang harus aktif bertindak; seseorang harus menunjukkan cintanya. Kata Erich Fromm, cinta memerlukan ikhtiar lebih banyak dari pada sekedar kepasifan kita.Oleh karena itu, implikasinya adalah bahwa, jika kita berharap untuk menerima cinta, maka kita sendiri harus terlebih dahulu memberikan cinta. Cinta bukanlah “Jalan satu arah”.

Selain itu, cinta itu aktif dan bukan pasif, maka cinta itu sejatinya memberi. Sampai pada titik ini cinta acapkali dipahami secara keliru.Banyak orang menafsirkan hal ini dengan memaknai cinta sebagai “berserah diri”, yaitu pengorbanan suci, atau keadaan yg terlepas dari sesuatu. Mereka acapkali juga merasa bahwa cinta merampas kebebasannya sebagai individu. Fromm mengatakan bahwa pemahaman seperti itu tidak benar, paling tidak untuk dua alasan:

Pertama, cinta tidak terbatas memberi dalam bentuk materi.
Kedua, menghargai diri sendiri dalam mencintai, cinta adalah memberi teruntuk orang yang kita cintai juga untuk diri kita sendiri yang berarti artinya bukan mengorbankan kebebasan kita sebagai individu. Catat ya !

Tipe cinta yang jauh lebih penting adalah cinta diri.kadang terasa aneh berbicara tentang cinta diri, Fromm justeru menunjukkan bahwa bukanlah ini masalahnya. Alasannya, pertama, kita harus membedakaan antara cinta diri dengan keegoisan diri. Keegoisan diri adalah satu bentuk egotisme yang tidak ada hubungannya dengan cinta. Bagi Fromm. orang yang mementingkan diri sendiri atau egois sebenarnya tidak mencintai dirinya sendiri sebab keegoisan diri memisahkan dirinya dari orang lain dan membuat dirinya menderita kesunyian dan kesendirian. Sebaliknya, seseorang yang di dalam dirinya penuh cinta lantaran mencintai semua orang berarti juga mencintai dirinya sendiri. Jika saya mencintai sesama sebagai sesuatu yang baik maka mencintai diri saya sendiri seharusnya juga menjadi hal yang baik.Gagasan semacam inilah yang terungkap di dalam Bible, “Cintailah sesama sebagaimana mencintai diri sendiri”. Ungkapan ini berimplikasi pada, cinta untuk diri sendiri tidak dapat dipisahkan dengan cinta pada orang lain

Sejauh ini orang bahkan mengatakan bahwa jika saya tidak dapat mencintai diri saya sendiri terlebih dahulu, maka saya tidak akan mampu mencintai orang lain. Jika saya tidak mencintai diri saya sendiri, yakni: jika saya tidak memiliki keyakinan dengan diri saya sendiri sebagai seseorang yang berharga untuk dicintai, maka saya akan selalu merasa gelisah dan terus akan menggantungkan hubungan saya dengan orang lain

Yuk Ta’aruf ! Jilid 2 – Jodohku –

Pertemuan adalah pilihan, Perpisahan adalah keputusan
Dan Jodoh adalah harmoni dari pilihan terbaikku dengan keputusan terakhir dariku
Karena pilihan tak ada yang sempurna, begitupun keputusan tak sepenuhnya terbaik

Hai sahabat, banyak sekali yang bertanya bagaimana caranya menjemput jodoh paling cepat atau bagaimana caranya menemukan pasangan yang tepat ?. Sebelum kita membahas tentang hal tersebut, bagi sahabat yang belum tahu tentang jodoh itu apa hehehee (biar hatimu adem kalau ada yang tanya mana jodohmu) yuk baca artikel kami sebelumnya tentang setapak takdir jodoh
Then, kita bahas yuk tentang serial jodoh selanjutnya. Yuk Taaruf !

Memang Urusan jodoh itu sering tak terduga. Yang disangka itu jodoh kita, eh…. malah pergi meninggalkan kita. Tapi justru yang tak diduga datang begitu saja. Setiap saya bertanya pada beberapa Sahabat yang sudah menikah, rata-rata mereka menjawab, “Gak nyangka, ternyata saya berjodoh dengan orang ini”. Ada yang baru kenal sebulan, seminggu, atau beberapa hari saja. Ada yang tak sengaja bertemu, namun berjodoh. Ada juga yang disengajakan untuk bertemu dan berjodoh. Beberapa kadang dipaksakan untuk berjodoh, walau tentu takdir-Nya yang akan menjawab.

Dalam Islam tidak ada kata yang spesifik menunjukkan jodoh tapi dalam Islam digunakan kata pasangan. Setiap manusia diciptakan berpasangan maksudnya laki-laki dan perempuan. Namun, diberikan kebebasan untuk memilih dan berikhtiar agar mendapat takdir yang terbaik.

Pertemuan adalah pilihan, Perpisahan adalah keputusan
seperti aku memilih bertemu denganmu diantara jutaan manusia
dan biarkan takdir yang memutuskan pernikahaan ataukah kematian yang menjadi akhir dari pertemuan ini.

Jodoh adalah masalah kecocokan jiwa Dan kesiapan untuk hidup bersama dalam suka dan duka Menerima kelebihannya, juga memaklumi kekurangannya Bukan titik yang menciptakan tinta, tapi tintalah yang menyebabkan titik. Bukan cinta yang membuat jadi cantik, tapi karena cintalah ia terlihat cantik Urusan jodoh itu sering tak terduga.

Pasangan itu akan hadir saat waktu yang tepat, tugas kita adalah memperbaiki diri agar mendapat pasangan yang terbaik. Jadi bukan masalah siapa jodoh saya atau kapan saya bertemu dengan jodoh saya tapi masalah mengapa saya bertemu jodoh saya dan bagaimana cara saya mendapatkan jodoh saya. Sehingga fokusnya adalah meluruskan niat bahwa apapun yang kita ikhtiarkan adalah dalam rangka ibadah kepada Allah dan pastikan bentuk ikhtiar kita tidak bertentangan dengan syariat Islam.

So, tinggal memilih, mau mendapatkan yang terbaik dengan memperbaiki kualitas diri atau mendapatkan ala kadarnya akibat ketidakseriusan kita. Sahabat pilih yang mana? Akan ada suatu masa kita mesti memilih dari beberapa pilihan untuk menjadi pasangan dalam kehidupan. Ia yang akan menua denganmu. Ia yang kau pilih menjadi belahan jiwamu. Ia yang akan menjadi patner hidupmu.

Maka, jangan kau pilih karena nafsu. Karena itu pasti semu. Kekayaan pasti sirna, kecantikan ada batasnya, kemahsyuran tak kan selamanya. Pilihlah karena taqwa, niscaya hidupmu akan mulia. Saat diuji kelapangan kau tak jumawa. Syukur senantiasa melingkari dada. Saat diuji kesulitan kau tak putus asa. Sabar senantiasa merasuk dalam jiwa.