Yuk Ta’aruf ! Jilid 2 – Jodohku –

Pertemuan adalah pilihan, Perpisahan adalah keputusan
Dan Jodoh adalah harmoni dari pilihan terbaikku dengan keputusan terakhir dariku
Karena pilihan tak ada yang sempurna, begitupun keputusan tak sepenuhnya terbaik

Hai sahabat, banyak sekali yang bertanya bagaimana caranya menjemput jodoh paling cepat atau bagaimana caranya menemukan pasangan yang tepat ?. Sebelum kita membahas tentang hal tersebut, bagi sahabat yang belum tahu tentang jodoh itu apa hehehee (biar hatimu adem kalau ada yang tanya mana jodohmu) yuk baca artikel kami sebelumnya tentang setapak takdir jodoh
Then, kita bahas yuk tentang serial jodoh selanjutnya. Yuk Taaruf !

Memang Urusan jodoh itu sering tak terduga. Yang disangka itu jodoh kita, eh…. malah pergi meninggalkan kita. Tapi justru yang tak diduga datang begitu saja. Setiap saya bertanya pada beberapa Sahabat yang sudah menikah, rata-rata mereka menjawab, “Gak nyangka, ternyata saya berjodoh dengan orang ini”. Ada yang baru kenal sebulan, seminggu, atau beberapa hari saja. Ada yang tak sengaja bertemu, namun berjodoh. Ada juga yang disengajakan untuk bertemu dan berjodoh. Beberapa kadang dipaksakan untuk berjodoh, walau tentu takdir-Nya yang akan menjawab.

Dalam Islam tidak ada kata yang spesifik menunjukkan jodoh tapi dalam Islam digunakan kata pasangan. Setiap manusia diciptakan berpasangan maksudnya laki-laki dan perempuan. Namun, diberikan kebebasan untuk memilih dan berikhtiar agar mendapat takdir yang terbaik.

Pertemuan adalah pilihan, Perpisahan adalah keputusan
seperti aku memilih bertemu denganmu diantara jutaan manusia
dan biarkan takdir yang memutuskan pernikahaan ataukah kematian yang menjadi akhir dari pertemuan ini.

Jodoh adalah masalah kecocokan jiwa Dan kesiapan untuk hidup bersama dalam suka dan duka Menerima kelebihannya, juga memaklumi kekurangannya Bukan titik yang menciptakan tinta, tapi tintalah yang menyebabkan titik. Bukan cinta yang membuat jadi cantik, tapi karena cintalah ia terlihat cantik Urusan jodoh itu sering tak terduga.

Pasangan itu akan hadir saat waktu yang tepat, tugas kita adalah memperbaiki diri agar mendapat pasangan yang terbaik. Jadi bukan masalah siapa jodoh saya atau kapan saya bertemu dengan jodoh saya tapi masalah mengapa saya bertemu jodoh saya dan bagaimana cara saya mendapatkan jodoh saya. Sehingga fokusnya adalah meluruskan niat bahwa apapun yang kita ikhtiarkan adalah dalam rangka ibadah kepada Allah dan pastikan bentuk ikhtiar kita tidak bertentangan dengan syariat Islam.

So, tinggal memilih, mau mendapatkan yang terbaik dengan memperbaiki kualitas diri atau mendapatkan ala kadarnya akibat ketidakseriusan kita. Sahabat pilih yang mana? Akan ada suatu masa kita mesti memilih dari beberapa pilihan untuk menjadi pasangan dalam kehidupan. Ia yang akan menua denganmu. Ia yang kau pilih menjadi belahan jiwamu. Ia yang akan menjadi patner hidupmu.

Maka, jangan kau pilih karena nafsu. Karena itu pasti semu. Kekayaan pasti sirna, kecantikan ada batasnya, kemahsyuran tak kan selamanya. Pilihlah karena taqwa, niscaya hidupmu akan mulia. Saat diuji kelapangan kau tak jumawa. Syukur senantiasa melingkari dada. Saat diuji kesulitan kau tak putus asa. Sabar senantiasa merasuk dalam jiwa.

Yuk Ta’aruf !

Ta’aruf berasal dari ta’arrofa yang artinya menjadi tahu, yang asal akarnya ‘a-ro-fa yang berarti mengenal-perkenalan. Mengenai makna dasar ta’aruf diperkuat dengan penjelasan Al-Qur’an Surah Al-Hujurah ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ الله أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ الله عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Yang artinya:“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku lit a’ārafū (supaya kamu saling kenal)… sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi amah mengenal.”(QS. Al-Hujurat : 13).
Pengalaman menemukan makna cinta merupakan sebuah peristiwa pengalaman yang unik bagi individu. Erikson (Hall & Lindzey, 1993). Proses penemuan makna cinta dalam proses ta’aruf memiliki dinamika yang khas dan unik dibandingkan dengan proses pacaran pada umumnya menuju pernikahan. Menurut Hana (2012), ta’aruf adalah proses perkenalan dalam rangka mengetahui lebih dalam tentang calon suami atau istri. Sedangkan ta’aruf dalam bahasa arab artinya saling mengenal. Ta’aruf bertujuan untuk mengenal agama dan akhlak dari calon pasangan. Hal ini termasuk diperbolehkan dengan melakukan interaksi dengan syarat yaitu tidak berkhalwat, dan menjaga topik pembicaraan sehingga tidak membuka pintu perbuatan haram (Hasbullah, 2012).
Hidayat mengutip dari Sukamdiarti bahwa ta’aruf adalah komunikasi timbal balik antara laki-laki dan perempuan untuk saling mengenal dan saling memperkenalkan diri. Fenomena ta’aruf yang didenotasikan suatu ritual pranikah adalah sebagai berikut:


a) Saling tukar menukar data diri sebagai perkenalan pertama, bahkan dengan bertukar foto masing-masing.


b) berjumpa pertama kali atau “melihat”. “melihat” inilah yang sebenarnya sesuai sunnah Nabi SAW, sebab Beliau SAW ketika salah seorang menyatakan akan menikah dengan si fulanah, beliau bertanya apakah sudah pernah melihat fulanah tersebut? Kemudian Beliau menganjurkan sahabat tersebut untuk melihatnya, dengan alasan: “karena melihat membuat engkau lebih terdorong untuk menikahinya”.


c) Proses dilanjutkan dengan “hubungan” dengan maksud memperjelas perkenalan, yaitu mungkin dengan surat menyurat, sms atau telepon atau pertemuan lain dengan komposisi yang sama.


d) Selanjutnya kedua pihak mulai melibatkan orang tua,


e) Jika sudah bicara teknis artinya sudah dalam proses menuju pernikahan.

Frankl (1963) mengemukakan bahwa cinta adalah tujuan tertinggi yang dapat dicapai manusia. Tujuan ini yang mendasari manusia untuk terus menemukan makna dari kehidupan yang dijalani. Individu dapat saling memberikan dukungan, saling membantu dalam mengatasi kesulitan bersama ataupun masing-masing, dan dapat saling meningkatkan keyakinan diri individu untuk menemukan makna hidup melalui cinta kasih (Iriana, 2005). Dengan mencintai orang lain, individu dapat membuat orang yang dicintainya menemukan maknanya sendiri dan dengan melakukan hal itu, individu sendiri menemukan makna bagi kehidupannya sendiri.
Cinta yang tersusun atas komitmen, keintiman dan hasrat menjadikan individu dapat menumbuhkan cinta pada pasangannya. Pencarian individu terhadap cinta dan pasangannya melalui metode ta’aruf dengan segala proses yang dijalani di dalamnya diharapkan dapat memunculkan nilai-nilai yang memberikan makna pada kehidupan individu. Hal tersebut yang mendorong ketertarikan peneliti untuk meneliti bagaimana penemuan makna cinta pada individu yang menikah melalui proses ta’aruf.

ZONA “NYAMAN” RUANG BERNAFAS CINTAMU

Zona nyaman seseorang atau yang sering kita kenal sebagai personal space tak bisa dipungkiri merupakan kebutuhan psikologis yang dimiliki setiap orang. Apakah orang orang tidak merasa terganggu kalau ada orang yang memasuki ruang pribadinya ?. Personal space bukan hanya berlaku pada larangan membaca buku harian seorang sahabat atau memaksa pasangan untuk memberitahukan password ponselnya. Bukan pula berlaku untuk aturan mengetuk pintu sebelum masuk ruangan bos atau mencuri lihat file file dan dokumen rekan kerja.
Ada aturan tak tertulis yang sudah dipahami di negara barat mengenai zona nyaman. Misalnya di Amerika, jika seseorang ingin menyendiri, mereka akan pergi ke taman sepi duduk di bangku kosong agar orang lain merasa risi duduk di sebelahnya. Mungkin berbeda di setiap negara dan budaya. Di Indonesia, mayoritas orang akan lebih nyaman berada di lingkungan yang ramai, seakan merasa takut kalau sendirian.
Terlepas dari budaya atau negaranya, setiap orang seharusnya menghormati orang lain, termasuk menjaga jarak zona nyaman setiap pribadi dirinya sendiri maupun orang lain agar kenyamanan dirinya dan orang lain tak ada yang terganggu. Yang jadi pertanyaan adalah apakah dalam hubungan percintaan personal space masih diperlukan ?
Apakah sepasang suami-istri masih memiliki hak tentang zona nyamannya masing masing ?
Apakah menjaga jarak zona nyaman masing masing masih dibutuhkan dalam relasi percintaan?
Meski Anda dan pasangan sudah menikah, zona nyaman sangat penting dalam hubungan dan diperbolehkan. Zona nyaman tidak akan merusak hubungan Anda dan pasangan asalkan disepakati secara bersama-sama. Dengan adanya personal space yang telah disepakati satu sama lain tandanya
Anda menghormati dan menghargai batasan pribadi masing-masing. kita juga harus menyadari hakikat kita sebagai makhluk sosial, dimana kita hidup di dunia pasti membutuhkan manusia lain.Karena kita saling membutuhkan, maka kita pun harus saling menghormati satu sama lain. Kamu nggak punya hak apa-apa untuk membatasi zona nyaman orang lain. Yang kamu punya adalah kewajiban untuk menghormati orang lain.
Anda dan pasangan bisa saling berdiskusi kira-kira batasan seperti apa yang perlu dihormati satu sama lain. Dengan begitu, Anda dan pasangan akan sama-sama merasa aman, didukung, dan diterima. Namun, batasan privasi ini harus dibicarakan dan disepakati oleh kedua belah pihak tentunya.

Cinta Mars & Venus

Sebuah buku populer berjudul Men Are Fron Mars, Woman Are From Venus yang ditulis oleh Jhon Grey memberikan kita ilustrasi bagaimana uniknya komunikasi dua dunia yang berbeda. Buku Jhon banyak berisi berbagsi saran untuk meningkatkan hubungan antara pria dan wanita melalui pemahaman gaya komunikasi dan kebutuhan emosional lawan jenis.
Dalam berkomunikasi, Mars akan cenderung to the point dan umumya akan mendengarkan jika percakapan memang berbobot ada isinya. Tetapi sebaliknya venus berkomunikasi dengan sebuah nada, yang terdengar seperti dramatis ditelinga mars. Venus sangat senang mengungkapkan perasaan yang menjadikannya senang berbicara banyak. Katanya Mars senang kemampuannya diakui sedangkan venus jauh lebih senang ketika perasaaannya dihargai.
Intinya venus cewek tak pernah mementingkan kemampuan, sedangkan cowok tidak memetingkan sebuah perasaan. Mars suka bekerja sendiri, tidak suka menerima bantuan jika tidak diminta. Naluri mars cenderung mendorong dirinya mengurus diri sendiri dengan mandiri bahkan jika itu harus mengorbankan orang lain. Maka tak heran jika cowok sang penghuni mars asli mayoritasnya akan membenci melakukan hal hal yang dituntut, kritik, atau hal apapun yang merasa seolah seperti budak. Itulah naluri laki laki. Sedangkan venus, justru mengharapkan untuk selalu diperhatikan. Perempuan akan selalu senang jika seseorang ikut campur membantu hidupnya. Terlebih mayoritas venus akan selalu berharap orang yang dicintainya akan memperhatikan sertaikut campur dalam hidup venus tanpa diminta olehnya.
Uniknya komunikasi makhluk dari dua planet ini tak pernah berhenti. Meski berbeda asa dan cara tapi pada dasarnya keduanya saling membutuhkan. Itulah manusia, hanya egonya saja terlalu tinggi untuk mengakuinya. Mars akan selalu mencari venus ketika ia membutuhkan sebuah dukungan karena hanya venus yang bisa memberikan mars kepercayaan, penghargaan, kekaguman, dan kasih sayang.
Memang dibutuhkan kompromi dan perubahan dari kedua makhluk planet mars dan venus ini untuk mengerti satu sama lain. Venus yang bisa berbicara bahasa Mars , begitu pun sebaliknya adalah kode etik ideal dalam menjaga hubungan yang lebih baik. Bahkan hubungan Mars-Venus ini bisa bertahan serta akan menjadi hubungan cinta yang dewasa dan lebih harmonis.

C,Ms. 2011. Ms Complaint’s Therapy. Yogjakarta ; B first.

Undercover Setapak Takdir Jodoh

Jodoh, Satu kata yang takan pernah berhenti untuk diperbincangkan. Satu topik yang akan selalu menarik untuk dibahas sepanjang masa. Satu harapan yang sejagat manusia selalu didengungkan dalam doa setiap harinya. Jodoh,kedatangannya yang sangat di- nanti terutama bagi yang masih sendiri, mengundang begitu banyak tanya dalam hati, ka- pankah ia akan datang..?? Akan sesuaikah dengan keinginan pribadi dan harapan keluarga besar..??
Sebenarnya, Jodoh tak sebatas tentang cinta, Jodoh bukan hanya tentang pernikahan, Jodoh adalah takdir tuhan yg telah digariskan akan kamu dapatkan setelah jerih usaha. Bukannya perkara jodoh hanya Tuhan semata, namun ada gerak individu untuk meraihnya. Mendapatkan jodoh bukan karena cantik, kaya, miskin, tmpan, cantik, cacat, bedah keyakinan, budaya, berpendidikan tetapi persoalan tersebut misteri. Toh! Pada kenyataanya banyak orang memiliki pasangan yang cantik,kurang cantik, kaya, miskin dan lain-lain. Jodoh bukan karena identitas, jodoh adallah cocok-mencocokkan antara yang satu individu dengan yang lain. Walaupun sesungguhnya ada kuasa ilahi yang mengaturnya sebab setiap perkara kehidupan kita pasti ditentukan oleh sang penentu perkara. Namun, perlu juga diingat satu hal bahwa individu bisa menentukan jodohnya. Mungkin bahasanya yang sederhana menghadirkan jodohnya, menerima jodohnya, ikhlas dengan jodohnya. Lagi-lagi hal tersebut merupakan rahasia sang penentu jodoh.
Jodoh seperti rizqi, ia telah di- tentukan oleh Allah SWT, namun kita tidak tahu apa yang yang telah ditentukan olehNya, dengan berpegang pada hakekat itu, kita diperintahkannya untuk berusaha, carilah jodoh yang baik, rizqi yang baik dengan jalan yang baik pula. Siapa jodoh kita..?? Berapa ban- yak rizqi kita..?? Itu semua bukan wewenang kita, itu semua keten- tuan Allah yang sudah tertulis dan tersimpan rapi di Lauh Mahfudz, milik kita hanyalah usaha. Maka apa apa yg telah kau usahakan maka itulah jodohmu.
Sejatinya, Jodoh bermakna takdir baik yg telah kita usahakan maka sahabat yang kau kenal dan selalu bersamamu duka maupun suka selama ini adalah jodoh, pekerjaan yang dpt kau raih setelah berusaha melewati berbagai tes dan wawancara adalah jodohmu. Seseorang yg kau temui dijalan membantumu tatkala kendaraanmu mogok, ia adalah jodoh. Guru yang kau miliki mampu mengajarimu hingga kamu menjadi manusia yang berwibawa dengan ilmu adalah jodoh. Ya jodoh adalah takdir. Seluruh takdir baik yg Tuhan telah tuliskan untukmu dan ia akan hadir kehadapanmu bergantung pada bagaimana yg telah kau lakukan. Cobalah sejenak kita merenung, tak mungkin ada seseorang yang dengan senang hati tanpa pamrih dan ia tergerak hatinya membantu dirimu memperbaiki kendaraan disaat hiruk pikuknya dunia dan kesibukannya. Maka berarti diayang digerakan Hatinya untuk membantumu adalah takdir baik dari Tuhan untuk membantumu dan takdir ini hadir karena usahamu berbuat baik pada orang lain yg meski bukan padaorg yg sama.
Maka bagimu yang masih terjerat dengan kata “jodoh”, lapangkanlah perasaanmu, luaskanlah pandanganmu dan terbukalah hatimu untuk tak hanya memandang jodoh sebatas cinta dan pernikahan. Berbaik sangkalah pada waktu bahwa urutan takdir yang kau terima saat ini adalah jodoh pekerjaan terlebih dahulu sebelum pernikahan, jodoh sahabat perjalanan sebelum jodoh cinta, jodoh orang orang yang menyayangimu selayaknya saudara sebelum jodoh yang mencintaimu karena ibadah dunia dan akhirat. Bersyukurlah jodohmu yg telah kau miliki tersebut agar jodoh yg belum hadir lainnya akan Tuhan segerakan untukmu pula. Bukankah jika kita mensyukuri nikmat Nya maka akan Allah tambahkan berlipat lipat ?
Tetaplah berusaha dengan maksimal dan tentunya dengan tetap mentaati rambu-rambu yang telah ditetapkan pada jalan Allah SWT, banyak berdoa dan berusaha menjadi orang yang baik, karena laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik dan begitu juga sebaliknya itu janji Allah, sungguh indah bukan..!!

Dua Mata Pisau Hati Cemburu

Seorang suami terkadang memang bersikap waspada terhadap hal-hal yang dikhawatirkan dapat menimbulkan gangguan-gangguan dalam kehidupan perkawinannya. Namun, dia tidak boleh keterlaluan dalam hal kecemburuan terhadap istrinya hingga menekan kebebasan pasangannya bahkan sampai memata-matai segala gerak geriknya. Rasulullah saw pun melarang perbuatan “mencari cari kesalahan para istri”. Sikap kecemburuan tak terkendali termasuk perbuatan buruk sangka yang terlarang. Sebab, “sebagian persangkaan adalah dosa”. Ali bin Abi Thalib r.a. pun berkata “ Jangan terlalu curiga terhadap istrimu, nanti dia dituduh yang bukan bukan akibat sikapmu tersebut”.

“ Barang siapa diantara para suami bersabar atas perilaku buruk dari istrinya maka Allah akan memberinya pahala seperti Dia berikan epada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barangsiapa diantara para istri  bersabar atas perilaku  uruk suaminya maka Allah akan memberikan pahala seperti yang Dia berikan kepada Asiah, Istri Fir’aun” Hadits Nabi saw (Al Baqir, 2015)

Rasul saw Bersabda dalam haditsnya : “ ada kecemburuan yang disukai Allah da ada pula yang dibenci oleh Tuhan. Demikian pula sikap sombong ber-gagah gagahan. Kecemburuan yang disukai oleh Allah ialah yang timbul dari akibat kecurigaan (akibat adanya sesuatu yang mengundang kecurigaan). Sementara yang dibenci oleh Allah adalah yang timbul tanpa sebab dan oleh kecurigaan yang hanya prasangka. (HR mursal oleh Abu Umar Al Tauqaniy).

Menurut Surbakti (2009), cemburu timbul karena ingin memiliki sendiri pasangannya dan perasaan terancam karena kehadiran orang lain dalam hubungannya. Saat mengalami rasa cemburu biasanya sistem rasionalnya tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Psikolterapis dan Pendiri sekaligus Direktur The Valley Counseling Center di Glendale, California, Amerika Serikat, Alan Loy McGinnis, mengatakan kalau cemburu dapat menunjukkan kepribadian yang tidak seimbang, tapi di sisi lain dapat menandakan cinta sejati.

Bagaimana cemburu menandakan ada kepribadian yang tidak seimbang? Contohnya bisa dilihat saat istri merasa sebal suami tampak akrab dengan teman wanitanya, padahal mereka hanya rekan kerja. “Istri ingin mengikat erat-erat suaminya karena takut lepas atau mungkin istri kurang puas dan meminta agar suami lebih memperhatikannya lagi,” ungkap McGinnis dalam buku The Romance Factor dikutip dari Liputan6

Adapun cara terbaik agar seseorang tidak perlu cembur atau curiga terhadap istrinya ialah dengan berbuat sebisa mungkin agar kaum laki-laki yang bukan muhrim tidak diberi kesempatan berjumpa dengan istrimu tanpa didampingi oleh muhrimnya. Demikian pula istri bisa menjaga dirinya agar tidak sering mengunjungi atau bertemu seseorang yang bukan muhrim baginya kecuali didampingi oleh suaminya. Ketahuilah jika sepasang suami-istri sering berpergian berdua saling menjaga satu sama lainnya atau bertamsya berdua maka akan menumbuhkan rasa kasih sayang dan mempererat marwah serta rohmah diantara keduanya. Bahkan memori cinta dimasa muda kedua sejawat pasutri akan mengembalikan giroh cinta mereka.

Love you, fool !!!

Cobe cek deh apa benar kita mencintai seseorang sampai mentok atau hanya cinta yg bego ?. dan apakah cinta dia layak kita perjuangkan ataukah sebaiknya dilepaskan ? Ukurannya sederhana ternyata sahabat heartenly.  Cinta kamu atau cinta dia terhadapmu termasuk yg romantis, realistis, materialistis atau hanya sekedar just for fun ?. Dalam buku klasik J.A.Lee, berjudul Colors of Love, ada enam jenis hubungan berlabel cinta. Let us discribe one by one :


Eros Love : ini adalah cinta pada pandangan pertama yang didapatkan karena adanya chemistry kebutuhan yang terpenuhi. Maksudnya adalah tentang cinta yang hanya berdasarkan keuntungan pribadi. ketika kita mendapatkan sesuatu baik itu kesenangan fisik maupun emosional maka kita cenderung mengatakan itu adalah cinta padahal hanya sekedar kepuasan sesaat atau hanya sebatas suka bukan cinta. Contohnya I love you because you make me happy, itu kan inti maknanya adalah tetpa tentang diri sendiri. Manfaatnya hanya ke diri sendiri. Banyak dari para pecinta eros ini dengan gampang mengucapkan I love you pdahal sebenarnya adalah baru tahap I like you. Inilah cinta eros. Umumnya, pacaran dengan dasar cinta eros seperti ini cenderung tidak realistis dan terlalu berfantasi.

Ludic Love : semua tentang permainan cinta tanpa akhir, hingga tanpa ikatan. Berbohong, penghianatan adalah sifat para fun Ludic ini. Yang terpenting ia mendapatkan apa yang diinginkannya, maka ia akan menghalalkan segala macam cara dan sikap buruk sebagai manusia. Para Ludic akan merasa bangga menggandeng pacar baru cuman untuk memanas manasin gebetan yang gak berhasil didapatnya atau mantannya. Parahnya lagi hanya karena takut dianggap jomblo, maka ia rela mati matian mengejar siapapun.berapapun jumlah orgnya yang penting tembak sebanyak banyaknya.

Storgic Love : cinta yang didasakan dengan persahabatan. Para storgic ingin dan selalu memperlakukan oarang yang dicintainya sebagai sahabat terbaiknya yg bisa diandalkan dan dipercaya. Ini adalah cinta seseorang yang benar benar jujur, terbuka, nyaman, dan bersifat lebih awet jangka panjang. Jika ingin mencapai frase cinta seperti ini dibutuhkan komitmen diantara keduanya bahkan komitmen dengan diri sendiri.

Pragmatis Love : ini adalah mengenai cinta yang sangat rasional. Semua harus selalu direncanakan serta diperhitungkan. Hubungan yang saling menguntungkan adalah landasannya. Give and take. Para pecinta pragmatis biasanya berfikir rasional, praktis, realistis tentang harapan dan bagaimana memperlakukan pasangannya. Memang efeknya seolah kurang romantis.

Maniac Love : semua mengenai cinta yang obsesif atau posesif. Selalu dipenuhi cemburu, ikatan yang ekstrem hinga rasa kepemilikan yang egois. Umumnya semua ini terjadi karena para maniac sering memiliki harga diri yang rendah, cemas atau merasa tidak aman dalam hubungannya sendiri dengan pasangannya. Perasaan negatif yang demikianlah yang memungkinkannya untuk melakukan sesuatu yang sangat gila atau bodoh hanya demi mencegah ketakutannya.

Agape Love. : ini mengenai cinta dengan tingkatanpaling tinggi. Cinta pengorbanan, setia, sabar, percaya. Yakni Cinta Tanpa Syarat. Seseorang yang rela berkorban demi pasangannya, memafkan kesalahan yang dicintainya dan berdoa agar orang yang dicintainya berubah menjadi lebih baik, meski menderita Para Agape akan tetap bertahan demi cintanya. Cinta agape yang suci hanya bisa dilihat dari cinta ibu terhadap anaknya atau cinta dua insan manusia dengan landasan spiritual, cinta karena Tuhannya. Namun cinta agape yang menyimpang bisa menjadi berakhir pada cinta obsesif dan posesif (maniac love).

Bagaimana sahabat, termasuk tipe yang manakah Cintamu ?

Memproposionalkan Kesetaraan Cinta

Keluarga adalah pilar dasar bagi berkembang majunya masyarakat. Keluarga selayaknya menjadi fokus pengembangan yang jauh lebih baik karena Islam memandang bahwa sesungguhnya keluarga adalah pondasi bagi masyarakat (Qordhawi, 2006).

Masa pra pembentukan perkawinan yakni tatkala individu dalam pencarian patner pasangan kehidupannya, seorang pria mencari siapa yang akan ia jadikan sebagai pilar keluarganya dan seorang wanita memilih siapa yang akan ia nobatkan sebagai nahkoda mahligai pernikahannya. seorang pemangku jabatan nahkoda. Inilah makna hakiki dari syarikatul hayah (pasangan kehidupan), yang tulus menjadi sayap suami dalam keadaan apapun kelak. Bersungguh-sungguh menjadi pilar kapal keluarga hingga sang suami mampu berfokus pada memandu mahligai tersebut berlayar dengan berani menuju dermaga cita cita keluarga dunia-akhirat.

Bayangkan saja, jika nahkoda hanya bekerja sendiri. Mampukah ia mengerjakan semua tugas sekaligus agar kapal dapat berlayar dimulai dari kestabilan bahan bakar, kebersihan kapal hingga terjaga dari kerusakan atau kebocoran, hingga melayani kebutuhan diri sendiri sebagai nahkoda yang h arus selalu memegang pengendali panel di ruang control dalam satu waktu ¿ begitu sangat penting keberadaan sang pilar keluarga demi kestabilan mahligai kapal ini dapat berlayar dengan aman. Nahkoda dan sang pilar adalah harmonisasi yang tak dapat terelakan.

            Tak ada yang namanya satu perkara berada diatas perkara lain dalam frase pra nikah. Proses yang ditempuh seorang pria dalam pencarian sang pilar keluarga yang akan dibangun olehnya sama pentingnya dengan proses seorang wanita menentukan pilihan pada nahkoda mahligai keluarga yang akan menjadi pemimpin transportasi seumur hidupnya dalam mengaruhi setiap perjalanan. Oleh karena itu dalam Al Quran sangat jelas Allah sampaikan dalam firmannya bahwa satu sama lainnya hendaklah mempertimbangkan agama dan akhlaknya dalam memilih pasangannya.

            Hukum islam pula menganjurkan topik kesepadanan diantara sang wanita dan pria menjadi pertimbangan dalam memilih pasangannya. ( QS 43 : 32) Fiqh menyebutnya sebagai istilah Kaffah (kesepadanan) yang memiliki makna kesetaraan antara calon pasangan suami-istri dalam aspek tertentu sebagai upaya untuk menjaga kehormatan keduanya. ( kemenag, 2017). Kondisi tertentu yang dimaksudkan tersebut yang dimaknai oleh para ulama klasik dengan definisi kondisi fisik dan agama. Beberapa ulama lainnya seperti imam hanbali, syafii, serta hanafi berpendapat aspek tersebut mencakup keturunan, kemerdekaan dan pekerjaan serta gelar pendidikan.

            Para ulama klasik juga menekankan bahwa konsep tersebut diperlukan bukan hanya menjaga kemashlahatan pihak perempuan tetapi juga menjaga kehormatan keluarga besar kedua pihak. Seiring berjalannya waktu, konsep kesepadanan pun cenderung didiskusikan dalam kerangka memfasilitasi kelangsungan ikatan pernikahan kedua mempelai ketimbang karena menjaga status sosial keluarga.

3000 KONFLIK CINTA

Pernikahan bahagia nan idaman sejatinya pasti menghadapi konflik didalamnya. Bagi barisan jomblo (QS 24:30-31), konflik terberat yang menciptakan kegalauan berkepanjangan yakni mengenai jodoh dan pernikahan (QS 24:33). Sementara bagi sejawat pasutri, justru “ pernikahan” jauh lebih kompleks menjadi sebuah konflik baginya terlebih jika terjadi kesalahan paradigma dalam memaknai pernikahannya. Terbayang baginya konflik selalu mencekik di setiap sudut pernikahannya : mencapai kesuksesan berumah tangga yang mendukung pekerjaannya, membesarkan anak-anak menjadi sukses dgn pandangan duniawi, hingga bagaimana menghadapi perbedaan dan kebosanan perasaan serta rutinitas semata-mata menjadi konflik dimata mereka yang semakin menyiksa karena parameter yang digunakannya pun ukuran duniawi yang bertopang pada budaya hedonis serta materialis (QS 25:43-44).

            Menurut Michael Gurlan dalam salah satu karyanya mengenai pola pemikiran laki-laki yang telah menikah yang sebelumnya ia mengumpulkan data penelitian hingga didapatkan gambaran bahwa selama 20 tahun terakhir, bagi dua sejawat pasutri pasti akan mengalami premis-premis konflik dalam setiap plot alur drama kehidupan keluarga; ada yang mampu menyelesaikan kisah drama keluarganya hingga plot ending terakhir namun jutru tidak sedikit yang stagnan dan terjerumus berhenti dalam plot dramanya tanpa dapat menyentuh yang menjadi ending alur kisah tersebut yang mana mayoritas ini ialah yakni yang memilih perceraian untuk berhenti di plot kisahnya tanpa sedikitpun menoleh bagaimana ending kisah keluarganya padahal jika saja ia berkeinginan kuat serta sabar, hanya butuh selangkah nyata menhadapi premis konfliknya maka ia terselamatkan dalam mengarungi drama keluarganya.

“Respectful communication under conflict or opposition is an essential and truly awe-inspiring ability.”

Potensi konflik diantara duan insan yang akan selalu bertemu setiap detiknya tentu memang sangatlah besar menggema. Rasa saling memahami tidak mungkin direngkuh dengan kilat secara otomatis setelah resmi akad nikah terucap. Maka sejatinya inilah dunia kenyataan, drama kehidupan yang sesungguhnya bukanlah semata sebuah skenario dramturgi duniawi. Perbedaan yang menjadi penyebab konflik inilah yang dalam pernikahan sesungguhnya suatu konflik adalah sebuah keniscayaan.

Dramaturgi yang diusungkan oleh Goffman (1959) dalam sebuah jurnalnya selayaknya sangat membatu menjelaskab fenomena bagaimana carut-marutnya topeng peran front stage yang dimainkan setiap individu manusia yang sangat egosentris tanpa memikirkan dampak dari permainan panggungnya pada masyarakat. Peran front stage tersebut pula yang terkadang menjadi pemicu trigger konflik dalam sepasang suami istri. Keterbukaan serta kejujuran diantara kedua sejawat pasutri akan menebalkan topeng front stage keduanya atau salah satu diantara mereka yang dalam posisinya justru merugikan “kerjasama” tim dalam keluarga. Saat pasangan mengetahui bagaimana back stage yang sebenarnya kemudian diselubungi dengan perasaan seolah dibohongi, dikhianati, serta meresa sebagai “korban” maka perkara kecil pun akan berpotensi menjadi trigger konflik peperangan maha dahsyat dalam keluarga.

            Keharmonisan dalam pernikahan adalah bukan perihal pernikahan yang tiada konflik satupun, namun sejatinya kondisi dimana kedua sejawat insan ini mampu menangani konflik yang muncul secara dewasa. Maka turbulensi yang menimpa pesawat rumah tangga kita seiring kita belajar dan bersabar bersama dalam menangani konflik akan kembali pada kondisi normal hingga seolah sudah tak terasa lagi goncangannya.

            Intinya, setiap hal tentunya membutuhkan proses. Mesin yang menciptakan barang instan pun memerlukan proses bagaimana merangkai hingga menghidupkan mesin tersebut. Begitu juga dengan pernikahan, jika kita mengabaikan pernikahan dan enggan menghadapi konflik hingga lebih memilih menghindar lari, niscaya bahtera rumah tangganya pun tetap berposes namun ironinya berproses pada kenyataan-kenyataan yang tidak diinginkan. Sama halnya dengan jika kita menghargai dan menyadari pernikahan hingga paham bagaimana bersabar dan belajar dalam menghadapi konflik yang terjadi, maka kebaikan yang Allah janjikan dalam pernikahan akan selalu hadir menemani hingga menjadikan perjalanan bahtera tersebut terasa manis, tentunya konflik tak berhenti hanya saja kedua insan tersebut jauh lebih dewasa dalam berjalan beriringan.

Logika Al-Quran menghadirkan kepada manusia bahwa konflik dibahasakan dengan kata aduw (permusuhan, pertentangan, konflik) yang digemakan 34 kali dalam Al-Quran yang memiliki makna substansi menyangkut proses konflik. Al-quran dengan jelas memberikan gambaran konflik khususnya konflik antar manusia yang sejatinya menjadi bahan dasar paradigma yang akan kita bentuk dalam menghadapi konflik (QS 10 :90, 2 : 36, 4:62).

karakter yang mendasari manusia tak dapat dihindari bagaimanapun juga ialah mengenai potensinya untuk mengalami konflik. (QS 18: 54). Bahkan menurut ibnu abbas, tiada sesuatu pun yang memiliki kecenderungan amat keras dalam konflik selain manusia. Bebagai potensi yang berbeda bahkan saling berlawanan dan bertabrakan selalu akan menjadi pemicu munculnya dinamika konflik. Sedangkan manusia sudah dipastikan tidak dapat mengelak dari ke-khas-an individu yang beraneka ragam.

Menurut Prof Agus Safei(2008) dalam salah satu karyanya mengungkapkan bahwa untuk itu Al quran memberikan jalan solusi dengan langsung berpusat pada akar masalahnya, yakni dibutuhkannya tanggungjawab dan cinta dalam mengikat konflik. Maknanya bahwa anugerah perbedaan status dan potensi yang dimiliki setiap pribadinya akan dipertanggungjwabakan dan bukan perkara yang patut untuk disandingkan sebagai perbandingan yang sejatinya justru untuk memberi, melengkapi serta saling menasehati (QS 103:1-3).

MOVE ON ≠ Melupakan

it’s time to move on,

Setiap insan di muka bumi tentunya pernah terluka, Orang dewasa dengan segala dilema yg dihadapinya maupun anak kecil dengan kepolosannya bisa, akan dan bahkan pernah terluka. entah pada akhirnya luka tersebut nampak maupun hanya luka kasat mata yang mampu membelenggu hati serta pikiran pemiliknya.

Mayoritas tentu akan mencari berbagai cara bagaimana menghilangkan luka tersebut. Tentunya kita pun selalu berharap bagaimana kita dapat terbebas dari belenggu masa lalu, terbebas dari rasa sakit luka tersebut dan bisa move on merangkai masa depan yg lebih baik. Namun, seolah rasa sakit dari hati yang patah mengikat kaki pemiliknya hingga ia sulit untuk bangkit berdiri kembali. Hati yang terluka terkadang menjadi sulit untu diobati hingga sang pemilik hati tersebut berakhir dengan gagal move on.

Lantas apakah move on dari luka masa lalu memang sesulit itukah ? Tidak adakah tips atau jurus jitu agar kita bisa move on dengan cepat ?

Sebenarnya bukan proses move on yang lama hanya saja meneguhkan niat serta kemauan untuk menyembuhkan luka lah yang sungguh lama serta sangatlah sulit. Barangkali secara sadar kita mengatakan ingin move on dan melupakan dia yang telah menyakiti hati kita tetapi dialam bawar sadar kita tak ingin melupakan kenangan tersebut, kita hanya terus meratapi dan mengulang ngulang penyesalan terhadap apa yang terjadi atau bahkan kita terus mencoba menyalahkan semua hal yg terkait dengan apa yang telah terjadi.

Orang-orang yang berpegang teguh pada rasa sakit masa lalu ini sering menghilangkan rasa sakitnya justru dengan terus mengulang-ulang rasa sakit tersebut dalam pikiran mereka.  Kadang-kadang seseorang bahkan bisa “terjebak” dalam rasa sakitnya.

Mengapa terjadi seperti demikian ?

Hakikatnya luka hati adalah perasaan. Dan move on yang selalu kita inginkan adalah mengenai bagaimana kita mendapatkan perasaan nyaman serta bahagia kembali, bagaimana kita bisa beranjak pindak dari perasaan sedih, kecewa, marah dan penyesalan menjadi perasaan yang jauh lebih positif.

Move on bukan perkara tentang melupakan sebuah objek dalam pikiran kita karena yang membedakan sebuah kenangan serta memori adalah perasaan yang hadir dari kenangan tersebut. Mengapa sebuah memori tentang suatu pelajaran dapat dengan mudah kita lupakan setelah ujian selesai sedangkan kenangan mengenai orang asing yang kita temui di jalan namun ia telah membuat kita tertawa karena suatu hal misalnya akan terus kita ingat karena perasaan senang dan sensasi dari tawa yg telah kita rasakan lah yang menjadikan kenangan tersebut hidup. Pada akhirnya otak seolah mendeteksi bahwa kenangan tersebut penting bagi pemiliknya.

Sama halnya dengan kenangan menyakitkan serta menyedihkan. Semakin kita berusaha menghilangkan kenangan dari kejadian menyedihkan tersebut maka sebenarnya kita terus mengulang kenangan tersebut diputar oleh otak kita. Semakin kita hanya fokus pada kenangan tsb maka akan sering diputar oleh otak dan pada akhirnya justru menjadi semakin sulit untuk menghilangkan rasa sakitnya.

Maka move on bukan lah perkara melupakan, tetapi perkara menerima perasaanmu kemudian genggamlah pilihan untuk berpindah pada perasaan yang baru. Move on memiliki makna berpindah, bergerak. Maka jika kita benar benar menginginkan bisa move on berarti yang harus kita lakukan adalah bergerak dan berpindah bukan melupakan. Berpindahlah dari perasaan yang menyelimuti mu selama masa menyedihkan tersebut, bergeraklah dari tempatmu agar kamu bisa melihat sudut pandang yang lain melihat kenanganmu hingga kau bisa mendapatkan perasaan yang baru muncul ketika melihat kenangan tersebut kembali.

Seperti halnya tatkala kita melihat suatu masalah.  Cara pandangmu melihat masalah akan menentukan bagaimana hati serta pikiranmu menghadapi masalah tersebut. Jika kau hanya berfokus pada siapa yang bersalah, apa penyebab semua ini terjadi maka kita hanya akan mendapatkan diri akan dan masih terjebak dalam masalah. Bukan berarti sudut pandang ini salah hanya saja jika kita tak melanjutkan langkah pada sudut pandang lainnya yaitu solusi apa yang dapat menyelesaikan masalah tersebut atau apa yang harus aku lakukan agar masalah ini selesai maka kita akan terus terjebak dalam perasaan penyesalan tanpa memperbaiki, perasaan menyedihkan tanpa bersyukur akan sesuatu yg masih kita miliki.

Holly Browns mengatakan “The problem with blaming others is that it can often leave you powerless. For example, you confront the person (your boss, your spouse, your parent, your child), and they say, “No, I didn’t,” or worse, “So what if I did?”, then you’re left with all this anger and hurt and no resolution. All your feelings are legitimate. It’s important to feel them fully, and then move on. Nursing your grievances indefinitely is a bad habit, because (as the title goes) it hurts you more than it hurts them

Jadi, apa yang akan kita lakukan terhadap luka tersebut jauh lebih penting daripada hanya memikirkan  luka itu sendiri.  Bukankah kita sangat menginginkan untuk kembali menjadi hati yang bahagia dan lebih positif dalam kehidupan?  Atau apakah Anda lebih suka merenungkan tanpa henti tentang masa lalu dan sesuatu yang tidak dapat diubah?

Satu-satunya cara Anda dapat menerima sukacita dan kebahagiaan baru dalam hidup Anda adalah membuat ruang untuk itu.  Jika hati Anda dipenuhi dengan rasa sakit dan sakit hati, bagaimana Anda bisa terbuka terhadap sesuatu yang baru?.