Komitmen Cinta

Close-up of hands of elderly couple

Dalam sebuah hubungan antara pria dan wanita seringkali kita mendengar istilah komitmen cinta. Istilah ini memang lebih sering dihubungkan dengan cinta yang terjadi antara pria dan wanita. Mengapa demikian? Padahal cinta dapat terjadi pada siapa dan apa saja, tidak hanya antara pria dan wanita. Ada cinta orangtua dengan anaknya, cinta kakak dengan adiknya, dan lain sebagainya.

Hal ini karena cinta antara pria dan wanita dimulai dari dua orang yang tidak mempunyai hubungan darah dan tidak saling mengenal sehingga diperlukan sebuah komitmen agar kedua belah pihak dapat menjalani hubungan dengan baik dan saling menghargai apapun masalah atau cobaan yang datang. Ditambah lagi hubungan ini rentan dengan kejenuhan dan godaan yang datang dari luar.

Definisi komitmen cinta adalah cinta yang bersifat jangka panjang bukan hanya sekedar berpacaran menghabiskan waktu dan bersenang-senang belaka. Contoh komitmen cinta yang paling nyata adalah komitmen untuk membina hubungan rumah tangga.

menurut Psikologikita.com Komitmen diartikan sebagai keadaan psikologis ketika seseorang merasa terikat atau terhubung dengan orang lain dan secara langsung akan mempengaruhi keputusan seseorang untuk melanjutkan atau mengakhiri sebuah hubungan. Ketika kedua pasangan memiliki komitmen yang tinggi maka pasangan tersebut akan merasa sangat terikat pada satu sama lain dan tidak memiliki keinginan untuk menyerah dan mengakhiri hubungan, mereka akan berupaya memperbaiki hubungan ketika menghadapi sebuah konflik.

Salah satu alasan yang melatarbelakangi kenapa seseorang susah berkomitmen adalah karena dia takut pada cinta yang membutuhkan timbal balik. Sebagaimana dikatakan oleh seorang filsuf China, Lao Tzu, bahwa sangat dicintai oleh seseorang memberi Anda kekuatan, sementara mencintai seseorang secara mendalam memberi Anda keberanian. Komitmen membutuhkan cinta yang saling timbal-balik bukan sepihak.

Komitmen yang terjalin dalam sebuah hubungan pada umumnya merupakan sebuah hasil dari suatu proses ketimbang muncul secara spontan dan tiba tiba. Komitmen akan muncul ketika pasangan merasa saling nyaman dan sama samamemiliki kepuasan dalam menjalani hubungan.

Cinta Tanpa Syarat

Banyak yang bilang kalau cinta yang tulus adalah orang yang mau menerima belahan hatinya apa adanya. Sekali lagi, apa adanya. Apakah kamu pernah terbesit pertanyaan dalam hati, bagaimana rasanya menerima seseorang apa adanya dan seperti apa sih cinta tanpa syarat itu? Atau apakah cinta tanpa syarat itu hanya mitos yang dibuat-buat supaya kisah cinta seseorang nggak terdengar terlalu menyedihkan?

Seseorang yang mencintai segala kelebihannya. Ia mengerti orang yang dicintainya luar-dalam. Ia yang paling memahami keadaan orang yang dicintainya. Orang orang umumnya mengatakan ini adalah cinta tanpa syarat

Cinta ‘tak bersyarat’ memiliki arti bahwa seseorang tidak menghiraukan kondisi berkekurangan yang telah ada di kehidupan pasangan, seperti kekurangan fisik, disabilitas, status sosial dan lain-lain. Cinta tak bersyarat dapat dikaitkan dengan Triangular Theory of Love milik Sternberg, dengan kategori Companionate love yaitu cinta yang terdiri dari kedekatan secara emosional.

Menurut pakar, cinta itu buta, karena buta maka cinta itu tak bersyarat. Benar juga sih, sebab mendefinisikan cinta sangat sulit sesulit menebak hati wanita. Katanya ..
Benarkah cinta itu buta dan tidak bersyarat? Ternyata, tidak juga. Cinta kepada Allah, justru bersyarat, tidak buta, logis, mudah didefinisikan dan diaplikasikan. Allah berfirman:

“Katakan (Wahai Nabi): Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Nabi). Maka, Allah akan mencintai kalian dan menghapus dosa-dosa kalian“. (QS. Ali Imran, ayat 31)

Seyogianya cinta adalah love is all, it gives all, it takes all.
Pun perlu diketahui bahwa cinta itu tidak melulu tentang kesenangan, cinta itu sangat dekat dengan penderitaan. Karena penderitaan adalah bagian paling penting waktu kita mau mengenali cinta. Mustahil kita mengalami cinta sejati kalau kita takut terluka. True love harus dialami dengan rasa sakit, sebab cinta yang sejati adalah cinta yang tak mudah menyerah, karena jika mencintai seseorang, maka kesusahan akan menjadi perekat cinta

ZONA “NYAMAN” RUANG BERNAFAS CINTAMU

Zona nyaman seseorang atau yang sering kita kenal sebagai personal space tak bisa dipungkiri merupakan kebutuhan psikologis yang dimiliki setiap orang. Apakah orang orang tidak merasa terganggu kalau ada orang yang memasuki ruang pribadinya ?. Personal space bukan hanya berlaku pada larangan membaca buku harian seorang sahabat atau memaksa pasangan untuk memberitahukan password ponselnya. Bukan pula berlaku untuk aturan mengetuk pintu sebelum masuk ruangan bos atau mencuri lihat file file dan dokumen rekan kerja.
Ada aturan tak tertulis yang sudah dipahami di negara barat mengenai zona nyaman. Misalnya di Amerika, jika seseorang ingin menyendiri, mereka akan pergi ke taman sepi duduk di bangku kosong agar orang lain merasa risi duduk di sebelahnya. Mungkin berbeda di setiap negara dan budaya. Di Indonesia, mayoritas orang akan lebih nyaman berada di lingkungan yang ramai, seakan merasa takut kalau sendirian.
Terlepas dari budaya atau negaranya, setiap orang seharusnya menghormati orang lain, termasuk menjaga jarak zona nyaman setiap pribadi dirinya sendiri maupun orang lain agar kenyamanan dirinya dan orang lain tak ada yang terganggu. Yang jadi pertanyaan adalah apakah dalam hubungan percintaan personal space masih diperlukan ?
Apakah sepasang suami-istri masih memiliki hak tentang zona nyamannya masing masing ?
Apakah menjaga jarak zona nyaman masing masing masih dibutuhkan dalam relasi percintaan?
Meski Anda dan pasangan sudah menikah, zona nyaman sangat penting dalam hubungan dan diperbolehkan. Zona nyaman tidak akan merusak hubungan Anda dan pasangan asalkan disepakati secara bersama-sama. Dengan adanya personal space yang telah disepakati satu sama lain tandanya
Anda menghormati dan menghargai batasan pribadi masing-masing. kita juga harus menyadari hakikat kita sebagai makhluk sosial, dimana kita hidup di dunia pasti membutuhkan manusia lain.Karena kita saling membutuhkan, maka kita pun harus saling menghormati satu sama lain. Kamu nggak punya hak apa-apa untuk membatasi zona nyaman orang lain. Yang kamu punya adalah kewajiban untuk menghormati orang lain.
Anda dan pasangan bisa saling berdiskusi kira-kira batasan seperti apa yang perlu dihormati satu sama lain. Dengan begitu, Anda dan pasangan akan sama-sama merasa aman, didukung, dan diterima. Namun, batasan privasi ini harus dibicarakan dan disepakati oleh kedua belah pihak tentunya.

Dua Mata Pisau Hati Cemburu

Seorang suami terkadang memang bersikap waspada terhadap hal-hal yang dikhawatirkan dapat menimbulkan gangguan-gangguan dalam kehidupan perkawinannya. Namun, dia tidak boleh keterlaluan dalam hal kecemburuan terhadap istrinya hingga menekan kebebasan pasangannya bahkan sampai memata-matai segala gerak geriknya. Rasulullah saw pun melarang perbuatan “mencari cari kesalahan para istri”. Sikap kecemburuan tak terkendali termasuk perbuatan buruk sangka yang terlarang. Sebab, “sebagian persangkaan adalah dosa”. Ali bin Abi Thalib r.a. pun berkata “ Jangan terlalu curiga terhadap istrimu, nanti dia dituduh yang bukan bukan akibat sikapmu tersebut”.

“ Barang siapa diantara para suami bersabar atas perilaku buruk dari istrinya maka Allah akan memberinya pahala seperti Dia berikan epada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barangsiapa diantara para istri  bersabar atas perilaku  uruk suaminya maka Allah akan memberikan pahala seperti yang Dia berikan kepada Asiah, Istri Fir’aun” Hadits Nabi saw (Al Baqir, 2015)

Rasul saw Bersabda dalam haditsnya : “ ada kecemburuan yang disukai Allah da ada pula yang dibenci oleh Tuhan. Demikian pula sikap sombong ber-gagah gagahan. Kecemburuan yang disukai oleh Allah ialah yang timbul dari akibat kecurigaan (akibat adanya sesuatu yang mengundang kecurigaan). Sementara yang dibenci oleh Allah adalah yang timbul tanpa sebab dan oleh kecurigaan yang hanya prasangka. (HR mursal oleh Abu Umar Al Tauqaniy).

Menurut Surbakti (2009), cemburu timbul karena ingin memiliki sendiri pasangannya dan perasaan terancam karena kehadiran orang lain dalam hubungannya. Saat mengalami rasa cemburu biasanya sistem rasionalnya tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Psikolterapis dan Pendiri sekaligus Direktur The Valley Counseling Center di Glendale, California, Amerika Serikat, Alan Loy McGinnis, mengatakan kalau cemburu dapat menunjukkan kepribadian yang tidak seimbang, tapi di sisi lain dapat menandakan cinta sejati.

Bagaimana cemburu menandakan ada kepribadian yang tidak seimbang? Contohnya bisa dilihat saat istri merasa sebal suami tampak akrab dengan teman wanitanya, padahal mereka hanya rekan kerja. “Istri ingin mengikat erat-erat suaminya karena takut lepas atau mungkin istri kurang puas dan meminta agar suami lebih memperhatikannya lagi,” ungkap McGinnis dalam buku The Romance Factor dikutip dari Liputan6

Adapun cara terbaik agar seseorang tidak perlu cembur atau curiga terhadap istrinya ialah dengan berbuat sebisa mungkin agar kaum laki-laki yang bukan muhrim tidak diberi kesempatan berjumpa dengan istrimu tanpa didampingi oleh muhrimnya. Demikian pula istri bisa menjaga dirinya agar tidak sering mengunjungi atau bertemu seseorang yang bukan muhrim baginya kecuali didampingi oleh suaminya. Ketahuilah jika sepasang suami-istri sering berpergian berdua saling menjaga satu sama lainnya atau bertamsya berdua maka akan menumbuhkan rasa kasih sayang dan mempererat marwah serta rohmah diantara keduanya. Bahkan memori cinta dimasa muda kedua sejawat pasutri akan mengembalikan giroh cinta mereka.

Memproposionalkan Kesetaraan Cinta

Keluarga adalah pilar dasar bagi berkembang majunya masyarakat. Keluarga selayaknya menjadi fokus pengembangan yang jauh lebih baik karena Islam memandang bahwa sesungguhnya keluarga adalah pondasi bagi masyarakat (Qordhawi, 2006).

Masa pra pembentukan perkawinan yakni tatkala individu dalam pencarian patner pasangan kehidupannya, seorang pria mencari siapa yang akan ia jadikan sebagai pilar keluarganya dan seorang wanita memilih siapa yang akan ia nobatkan sebagai nahkoda mahligai pernikahannya. seorang pemangku jabatan nahkoda. Inilah makna hakiki dari syarikatul hayah (pasangan kehidupan), yang tulus menjadi sayap suami dalam keadaan apapun kelak. Bersungguh-sungguh menjadi pilar kapal keluarga hingga sang suami mampu berfokus pada memandu mahligai tersebut berlayar dengan berani menuju dermaga cita cita keluarga dunia-akhirat.

Bayangkan saja, jika nahkoda hanya bekerja sendiri. Mampukah ia mengerjakan semua tugas sekaligus agar kapal dapat berlayar dimulai dari kestabilan bahan bakar, kebersihan kapal hingga terjaga dari kerusakan atau kebocoran, hingga melayani kebutuhan diri sendiri sebagai nahkoda yang h arus selalu memegang pengendali panel di ruang control dalam satu waktu ¿ begitu sangat penting keberadaan sang pilar keluarga demi kestabilan mahligai kapal ini dapat berlayar dengan aman. Nahkoda dan sang pilar adalah harmonisasi yang tak dapat terelakan.

            Tak ada yang namanya satu perkara berada diatas perkara lain dalam frase pra nikah. Proses yang ditempuh seorang pria dalam pencarian sang pilar keluarga yang akan dibangun olehnya sama pentingnya dengan proses seorang wanita menentukan pilihan pada nahkoda mahligai keluarga yang akan menjadi pemimpin transportasi seumur hidupnya dalam mengaruhi setiap perjalanan. Oleh karena itu dalam Al Quran sangat jelas Allah sampaikan dalam firmannya bahwa satu sama lainnya hendaklah mempertimbangkan agama dan akhlaknya dalam memilih pasangannya.

            Hukum islam pula menganjurkan topik kesepadanan diantara sang wanita dan pria menjadi pertimbangan dalam memilih pasangannya. ( QS 43 : 32) Fiqh menyebutnya sebagai istilah Kaffah (kesepadanan) yang memiliki makna kesetaraan antara calon pasangan suami-istri dalam aspek tertentu sebagai upaya untuk menjaga kehormatan keduanya. ( kemenag, 2017). Kondisi tertentu yang dimaksudkan tersebut yang dimaknai oleh para ulama klasik dengan definisi kondisi fisik dan agama. Beberapa ulama lainnya seperti imam hanbali, syafii, serta hanafi berpendapat aspek tersebut mencakup keturunan, kemerdekaan dan pekerjaan serta gelar pendidikan.

            Para ulama klasik juga menekankan bahwa konsep tersebut diperlukan bukan hanya menjaga kemashlahatan pihak perempuan tetapi juga menjaga kehormatan keluarga besar kedua pihak. Seiring berjalannya waktu, konsep kesepadanan pun cenderung didiskusikan dalam kerangka memfasilitasi kelangsungan ikatan pernikahan kedua mempelai ketimbang karena menjaga status sosial keluarga.

3000 KONFLIK CINTA

Pernikahan bahagia nan idaman sejatinya pasti menghadapi konflik didalamnya. Bagi barisan jomblo (QS 24:30-31), konflik terberat yang menciptakan kegalauan berkepanjangan yakni mengenai jodoh dan pernikahan (QS 24:33). Sementara bagi sejawat pasutri, justru “ pernikahan” jauh lebih kompleks menjadi sebuah konflik baginya terlebih jika terjadi kesalahan paradigma dalam memaknai pernikahannya. Terbayang baginya konflik selalu mencekik di setiap sudut pernikahannya : mencapai kesuksesan berumah tangga yang mendukung pekerjaannya, membesarkan anak-anak menjadi sukses dgn pandangan duniawi, hingga bagaimana menghadapi perbedaan dan kebosanan perasaan serta rutinitas semata-mata menjadi konflik dimata mereka yang semakin menyiksa karena parameter yang digunakannya pun ukuran duniawi yang bertopang pada budaya hedonis serta materialis (QS 25:43-44).

            Menurut Michael Gurlan dalam salah satu karyanya mengenai pola pemikiran laki-laki yang telah menikah yang sebelumnya ia mengumpulkan data penelitian hingga didapatkan gambaran bahwa selama 20 tahun terakhir, bagi dua sejawat pasutri pasti akan mengalami premis-premis konflik dalam setiap plot alur drama kehidupan keluarga; ada yang mampu menyelesaikan kisah drama keluarganya hingga plot ending terakhir namun jutru tidak sedikit yang stagnan dan terjerumus berhenti dalam plot dramanya tanpa dapat menyentuh yang menjadi ending alur kisah tersebut yang mana mayoritas ini ialah yakni yang memilih perceraian untuk berhenti di plot kisahnya tanpa sedikitpun menoleh bagaimana ending kisah keluarganya padahal jika saja ia berkeinginan kuat serta sabar, hanya butuh selangkah nyata menhadapi premis konfliknya maka ia terselamatkan dalam mengarungi drama keluarganya.

“Respectful communication under conflict or opposition is an essential and truly awe-inspiring ability.”

Potensi konflik diantara duan insan yang akan selalu bertemu setiap detiknya tentu memang sangatlah besar menggema. Rasa saling memahami tidak mungkin direngkuh dengan kilat secara otomatis setelah resmi akad nikah terucap. Maka sejatinya inilah dunia kenyataan, drama kehidupan yang sesungguhnya bukanlah semata sebuah skenario dramturgi duniawi. Perbedaan yang menjadi penyebab konflik inilah yang dalam pernikahan sesungguhnya suatu konflik adalah sebuah keniscayaan.

Dramaturgi yang diusungkan oleh Goffman (1959) dalam sebuah jurnalnya selayaknya sangat membatu menjelaskab fenomena bagaimana carut-marutnya topeng peran front stage yang dimainkan setiap individu manusia yang sangat egosentris tanpa memikirkan dampak dari permainan panggungnya pada masyarakat. Peran front stage tersebut pula yang terkadang menjadi pemicu trigger konflik dalam sepasang suami istri. Keterbukaan serta kejujuran diantara kedua sejawat pasutri akan menebalkan topeng front stage keduanya atau salah satu diantara mereka yang dalam posisinya justru merugikan “kerjasama” tim dalam keluarga. Saat pasangan mengetahui bagaimana back stage yang sebenarnya kemudian diselubungi dengan perasaan seolah dibohongi, dikhianati, serta meresa sebagai “korban” maka perkara kecil pun akan berpotensi menjadi trigger konflik peperangan maha dahsyat dalam keluarga.

            Keharmonisan dalam pernikahan adalah bukan perihal pernikahan yang tiada konflik satupun, namun sejatinya kondisi dimana kedua sejawat insan ini mampu menangani konflik yang muncul secara dewasa. Maka turbulensi yang menimpa pesawat rumah tangga kita seiring kita belajar dan bersabar bersama dalam menangani konflik akan kembali pada kondisi normal hingga seolah sudah tak terasa lagi goncangannya.

            Intinya, setiap hal tentunya membutuhkan proses. Mesin yang menciptakan barang instan pun memerlukan proses bagaimana merangkai hingga menghidupkan mesin tersebut. Begitu juga dengan pernikahan, jika kita mengabaikan pernikahan dan enggan menghadapi konflik hingga lebih memilih menghindar lari, niscaya bahtera rumah tangganya pun tetap berposes namun ironinya berproses pada kenyataan-kenyataan yang tidak diinginkan. Sama halnya dengan jika kita menghargai dan menyadari pernikahan hingga paham bagaimana bersabar dan belajar dalam menghadapi konflik yang terjadi, maka kebaikan yang Allah janjikan dalam pernikahan akan selalu hadir menemani hingga menjadikan perjalanan bahtera tersebut terasa manis, tentunya konflik tak berhenti hanya saja kedua insan tersebut jauh lebih dewasa dalam berjalan beriringan.

Logika Al-Quran menghadirkan kepada manusia bahwa konflik dibahasakan dengan kata aduw (permusuhan, pertentangan, konflik) yang digemakan 34 kali dalam Al-Quran yang memiliki makna substansi menyangkut proses konflik. Al-quran dengan jelas memberikan gambaran konflik khususnya konflik antar manusia yang sejatinya menjadi bahan dasar paradigma yang akan kita bentuk dalam menghadapi konflik (QS 10 :90, 2 : 36, 4:62).

karakter yang mendasari manusia tak dapat dihindari bagaimanapun juga ialah mengenai potensinya untuk mengalami konflik. (QS 18: 54). Bahkan menurut ibnu abbas, tiada sesuatu pun yang memiliki kecenderungan amat keras dalam konflik selain manusia. Bebagai potensi yang berbeda bahkan saling berlawanan dan bertabrakan selalu akan menjadi pemicu munculnya dinamika konflik. Sedangkan manusia sudah dipastikan tidak dapat mengelak dari ke-khas-an individu yang beraneka ragam.

Menurut Prof Agus Safei(2008) dalam salah satu karyanya mengungkapkan bahwa untuk itu Al quran memberikan jalan solusi dengan langsung berpusat pada akar masalahnya, yakni dibutuhkannya tanggungjawab dan cinta dalam mengikat konflik. Maknanya bahwa anugerah perbedaan status dan potensi yang dimiliki setiap pribadinya akan dipertanggungjwabakan dan bukan perkara yang patut untuk disandingkan sebagai perbandingan yang sejatinya justru untuk memberi, melengkapi serta saling menasehati (QS 103:1-3).