Sumpah Pemuda Atas Nama Cinta

“It is not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages.” 
― Friedrich Nietzsche

Suatu malam Dewi bermimpi:

Ia dibonceng Albert bersepeda

Lepas gembira melewati sawah dan bukit. Inikah pertanda mulai bersemi cintanya?

Semakin lama semakin deras perasaan sayangnya, Tapi sejak mulai disadarinya juga:

Mereka berlainan agama.

Siapa gerangan yang akan memisahkan cinta remaja?

Mengenali perasaan cinta saja belum dapat membuat kita mampu mencintai karena kita seringkali salah dalam mengartikan perasaan cinta kita. Seorang anak bisa merasa orangtuanya tidak mencintainya ketika memaksa dirinya untuk pergi ke dokter gigi yang sangat ia benci. Padahal orangtuanya melakukan hal tersebut dengan penuh cinta supaya anaknya dapat segera sembuh.

Orang-orang yang sedang jatuh cinta mempunyai kadar cinta yang berbeda-beda, ada yang sangat intim dan mesra, tetapi tidak jarang terlihat pasangan tersebut sering bertengkar bahkan ada yang bercerai walaupun sudah menikah. 

Menurut Sternberg (1988), cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepriba- dian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Kisah pada setiap orang bera- sal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, apa- kah dari orang tua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan.

Maka sejatinya cinta tetaplah harus menapak naluri berlandaskan logika.

Bolehlah kita terbuai oleh sebuah rasa atau terhanyut dalam kebahagiaan yang dihadirkan hormon endorpin dari sebuah kata cinta tetapi tetaplah ingat bahwa keputusan atas nama cinta tanpa komitmen akal hanya akan menguap dan hilang.  Janji janji atas nama cinta tanpa saksi hanya akan saling menyakiti. Hingga Ikrar Sumpah atas nama cinta tanpa keimanan hanya akan berakhir tanpa kenyamanan.  

Tahap Tahap Cinta

Pacaran yang dijalankan oleh kedua individu bukan hanya sekedar perasaan saling menyukai, tetapi bagaimana kedua individu tersebut dapat saling berbagi dan menerima keadaan satu sama lain.

Abraham Maslow berpendapat, individu yang menjalankan pacaran akan mendambakan hubungan yang penuh kasih sayang dan cinta kepada orang lain dan individu akan berusaha untuk mencapai hubungan tersebut. Jika dikaitkan dengan teori psikoseksual dari Sigmun Freud, masa-masa pacaran termasuk pada tahap kelima yaitu tahap genital yang fokus pada kematangan alat reproduksi individu.


Menurut Ibn Taymiyah (1978) cinta mempunyai tahap-tahap tertentu.

Tahap paling awal disebut sebagai al-‘Alaaqah, kemudian diikuti oleh al-Sababah, al-Gharam, al-‘Isyq dan yang tertinggi adalah al-Tatayyum.

Al-‘Alaaqah merujuk kepada hubungan hati terhadap perkara yang dikasihi. Sementara al- Sababah pula berkaitan dengan perasaan halus yang cenderung kepada sesuatu perkara itu. Manakala al-Gharam pula bermaksud cinta yang berterusan terhadap sesuatu.

Al-‘Isyq pula adalah kebergantungan hati terhadap sesuatu yang dicintai. Peringkat yang tertinggi iaitu al-Tatayyum pula bermakna menghambakan diri sepenuhnya terhadap sesuatu yang dikasihi itu (Ibn Taymiyyah 1978).

Dalam konteks ini al-Tatayyum adalah sama erti dengan istilah al-Ta’abbud (Ibn Abi al-Izz 1987). Selain dari itu terdapat juga istilah-istilah lain yang dikaitkan dengan cinta. Antaranya adalah seperti istilah al-Syaghaf (Ibn Abi al-Izz 1987). Ia merupakan perasaan cinta yang sampai ke penutup pintu hati. Maksud ini disebut oleh Allah di dalam surah Yusuf, ayat 30 yang bermaksud:


Sesungguhnya cintanya terhadap anak muda itu (nabi Yusuf a.s) adalah sangat mendalam”.

Problematika Cinta

Mencintai dan dicintai adalah rangkaian aksi dan sebuah harapan yang menjadi satu melebur dengan sebuah perasaan yag sering kita gaungkan sebagai cinta. Ada yang mengatakan sepasang hati yang telah terpaut cinta merasa dunia bagaikan mabuk tak sadarkan diri. 

Cinta bukanlah satu topik perbincangan yang baru dalam kalangan Sarjana. Terdapat banyak penulisan yang dihasilkan tentang cinta sepanjang sejarah dari zaman kuno hingga ke zaman moden. Walau bagaimanapun kajian saintifik tentang cinta hanya bermula pada kurun ke 20 (Stenberg, 2015). 

Menurut konsultan hubungan Sheryl Paul, MD dikutip dari Huffington Post, banyak pasangan terjatuh dalam lubang permasalahan yang sama setiap hari karena mereka tidak tahu bagaimana komunikasi harusnya dibangun. Lantas, apa sebenarnya yg seharusnya diperbaiki ?

Cinta telah dilihat sebagai satu elemen modern yang bertanggungjawab sebagai permulaan bagi sesebuah hubungan intim dan seterusnya membawa kepada pembentukan keluarga (Malta, 2013). Stenberg menjelaskan bahawa komponen terpenting dalam cinta di antaranya adalah ghairah dan keintiman. 

Maka sejatinya jika terjadi permasalahan perihal cinta terutama bagi sepasang suami istri tetaplah jaga komponen keintiman baik secara komunikasi maupun fisik. Maksudnya disini adalah tetaplah jaga dan rawat komunikasi dengan baik, dan jangan pernah bergantung kepada orang lain meskipun dia sahabat atau teman terdekat, tapi percayalah hanya dia patner kita,satu satunya yang sanggup dan layak menjadi tempat bersandar curhat berbagi. Karena konteks curhat adalah tentang intimacy. Curhat adalah zona pinte pertama sebuah intimacy dan privasi hati seseorang. Meskipun kita hanya curhat tentang masalah belanja bulanan fisik yang menurutkita gak penting. Tetapi ketika kita curhat sembarangan, bukan pada tempat yang tepat. Maka komunikasi merenggang dan kesalahfahaman semakin menganga lebar. 

Mengenal Hati Sang Cinta

Mengenal cinta adalah perjalanan yg Takan pernah berakhir tanpa memberikan kenangan

Cinta adalah anugerah Ilahi. Cinta punya bahasanya sendiri. Selalu bergerak dari hati ke hati, yang nada mistisnya hanya cinta yang mengetahui. Karena itu, bila ada cinta di hati yang satu, pasti ada cinta di hati yang lain lagi. Demikian menurut sebait puisi Persia.

cinta terlalu sulit untuk didefinisikan, karna cangkupanmaknanya yang terlalu luas dan tak terbatas. Cinta berhubungan denganemosi, bukan dengan intelektual seseorang. Perasaan lebih berperandalam cinta daripada proses intelektual. Walaupun demikian cinta dapatdiartikan sebagai keadaan untuk saling mengerti secara dalam danmenerima sepenuh hati

Bersatu dengan orang lain adalah kebutuhan terdalam dari setiap manusia, kata Erich Fromm. Basis kedekatan adalah komunikasi. Karena setiap manusia sudah mengalami ketersendirian, maka mereka merindukan bisa bersatu dengan orang lain melalui cinta.

Menurut Eric Form untuk mengenal pasangan kita lebih dekat serta mencintainya lebihd dalam maka konsep cinta itu harus terdiri dari 4 unsur yaitu:
○ Care (perhatian); sangat diperlukan dalam prilaku yang disebutcinta agar dapat memahami kehidupan, perkambangan majumundur, baik burut, dan bagaimana kesejahteraan objek yangdicintai.
○Responsibility (tanggung jawab); tanggung jawab diperlukandalam menjalin hubungan. Sebab tanpa adanya tanggung jawabtidak akan ada pembagian yang seimbang. Tanggung jawab disinibukanlah untuk mendikte objek yang dicintai sekehendak kita, tapibagaimana keterlibatannya dalam kehidupan objek yang dicintai.
○Respect (hormat); hal ini menekankan bagaimana menghargaidan menerima objek yang dicintai apa adanya dan tidak bersikapsekehandak hati.
○Knowledge (pengetahuan); pengetahuan diperlukan gunamengetahui seluk beluk yang dicintai. Dengan demikian kita dapatmembidik target yang kita incar, dengan kata lain tak kenal makatak sayang. Bila objek yang kita bidik itu adalah manusia, makaharus kita kenali dan pahami bagaiman kepribadian

Tidak selayaknya seseorang menyepelekan dalam memilih sahabat, karena persahabatan memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi seseorang. Persahabatan dan cinta adalah kunci bahagia.

Rumah tangga bagaikan surga
Bila suami istri suka sekata.
Suami istri cinta agama
Perkawinan mereka akan sentosa.

Suami istri suka mengaji
Silang sengketa sukar terjadi.
Suami istri suka belajar
Silang sengketa akan terhindar.
(Sulaiman Yusuf)