Love you, fool !!!

Cobe cek deh apa benar kita mencintai seseorang sampai mentok atau hanya cinta yg bego ?. dan apakah cinta dia layak kita perjuangkan ataukah sebaiknya dilepaskan ? Ukurannya sederhana ternyata sahabat heartenly.  Cinta kamu atau cinta dia terhadapmu termasuk yg romantis, realistis, materialistis atau hanya sekedar just for fun ?. Dalam buku klasik J.A.Lee, berjudul Colors of Love, ada enam jenis hubungan berlabel cinta. Let us discribe one by one :


Eros Love : ini adalah cinta pada pandangan pertama yang didapatkan karena adanya chemistry kebutuhan yang terpenuhi. Maksudnya adalah tentang cinta yang hanya berdasarkan keuntungan pribadi. ketika kita mendapatkan sesuatu baik itu kesenangan fisik maupun emosional maka kita cenderung mengatakan itu adalah cinta padahal hanya sekedar kepuasan sesaat atau hanya sebatas suka bukan cinta. Contohnya I love you because you make me happy, itu kan inti maknanya adalah tetpa tentang diri sendiri. Manfaatnya hanya ke diri sendiri. Banyak dari para pecinta eros ini dengan gampang mengucapkan I love you pdahal sebenarnya adalah baru tahap I like you. Inilah cinta eros. Umumnya, pacaran dengan dasar cinta eros seperti ini cenderung tidak realistis dan terlalu berfantasi.

Ludic Love : semua tentang permainan cinta tanpa akhir, hingga tanpa ikatan. Berbohong, penghianatan adalah sifat para fun Ludic ini. Yang terpenting ia mendapatkan apa yang diinginkannya, maka ia akan menghalalkan segala macam cara dan sikap buruk sebagai manusia. Para Ludic akan merasa bangga menggandeng pacar baru cuman untuk memanas manasin gebetan yang gak berhasil didapatnya atau mantannya. Parahnya lagi hanya karena takut dianggap jomblo, maka ia rela mati matian mengejar siapapun.berapapun jumlah orgnya yang penting tembak sebanyak banyaknya.

Storgic Love : cinta yang didasakan dengan persahabatan. Para storgic ingin dan selalu memperlakukan oarang yang dicintainya sebagai sahabat terbaiknya yg bisa diandalkan dan dipercaya. Ini adalah cinta seseorang yang benar benar jujur, terbuka, nyaman, dan bersifat lebih awet jangka panjang. Jika ingin mencapai frase cinta seperti ini dibutuhkan komitmen diantara keduanya bahkan komitmen dengan diri sendiri.

Pragmatis Love : ini adalah mengenai cinta yang sangat rasional. Semua harus selalu direncanakan serta diperhitungkan. Hubungan yang saling menguntungkan adalah landasannya. Give and take. Para pecinta pragmatis biasanya berfikir rasional, praktis, realistis tentang harapan dan bagaimana memperlakukan pasangannya. Memang efeknya seolah kurang romantis.

Maniac Love : semua mengenai cinta yang obsesif atau posesif. Selalu dipenuhi cemburu, ikatan yang ekstrem hinga rasa kepemilikan yang egois. Umumnya semua ini terjadi karena para maniac sering memiliki harga diri yang rendah, cemas atau merasa tidak aman dalam hubungannya sendiri dengan pasangannya. Perasaan negatif yang demikianlah yang memungkinkannya untuk melakukan sesuatu yang sangat gila atau bodoh hanya demi mencegah ketakutannya.

Agape Love. : ini mengenai cinta dengan tingkatanpaling tinggi. Cinta pengorbanan, setia, sabar, percaya. Yakni Cinta Tanpa Syarat. Seseorang yang rela berkorban demi pasangannya, memafkan kesalahan yang dicintainya dan berdoa agar orang yang dicintainya berubah menjadi lebih baik, meski menderita Para Agape akan tetap bertahan demi cintanya. Cinta agape yang suci hanya bisa dilihat dari cinta ibu terhadap anaknya atau cinta dua insan manusia dengan landasan spiritual, cinta karena Tuhannya. Namun cinta agape yang menyimpang bisa menjadi berakhir pada cinta obsesif dan posesif (maniac love).

Bagaimana sahabat, termasuk tipe yang manakah Cintamu ?

Memproposionalkan Kesetaraan Cinta

Keluarga adalah pilar dasar bagi berkembang majunya masyarakat. Keluarga selayaknya menjadi fokus pengembangan yang jauh lebih baik karena Islam memandang bahwa sesungguhnya keluarga adalah pondasi bagi masyarakat (Qordhawi, 2006).

Masa pra pembentukan perkawinan yakni tatkala individu dalam pencarian patner pasangan kehidupannya, seorang pria mencari siapa yang akan ia jadikan sebagai pilar keluarganya dan seorang wanita memilih siapa yang akan ia nobatkan sebagai nahkoda mahligai pernikahannya. seorang pemangku jabatan nahkoda. Inilah makna hakiki dari syarikatul hayah (pasangan kehidupan), yang tulus menjadi sayap suami dalam keadaan apapun kelak. Bersungguh-sungguh menjadi pilar kapal keluarga hingga sang suami mampu berfokus pada memandu mahligai tersebut berlayar dengan berani menuju dermaga cita cita keluarga dunia-akhirat.

Bayangkan saja, jika nahkoda hanya bekerja sendiri. Mampukah ia mengerjakan semua tugas sekaligus agar kapal dapat berlayar dimulai dari kestabilan bahan bakar, kebersihan kapal hingga terjaga dari kerusakan atau kebocoran, hingga melayani kebutuhan diri sendiri sebagai nahkoda yang h arus selalu memegang pengendali panel di ruang control dalam satu waktu ¿ begitu sangat penting keberadaan sang pilar keluarga demi kestabilan mahligai kapal ini dapat berlayar dengan aman. Nahkoda dan sang pilar adalah harmonisasi yang tak dapat terelakan.

            Tak ada yang namanya satu perkara berada diatas perkara lain dalam frase pra nikah. Proses yang ditempuh seorang pria dalam pencarian sang pilar keluarga yang akan dibangun olehnya sama pentingnya dengan proses seorang wanita menentukan pilihan pada nahkoda mahligai keluarga yang akan menjadi pemimpin transportasi seumur hidupnya dalam mengaruhi setiap perjalanan. Oleh karena itu dalam Al Quran sangat jelas Allah sampaikan dalam firmannya bahwa satu sama lainnya hendaklah mempertimbangkan agama dan akhlaknya dalam memilih pasangannya.

            Hukum islam pula menganjurkan topik kesepadanan diantara sang wanita dan pria menjadi pertimbangan dalam memilih pasangannya. ( QS 43 : 32) Fiqh menyebutnya sebagai istilah Kaffah (kesepadanan) yang memiliki makna kesetaraan antara calon pasangan suami-istri dalam aspek tertentu sebagai upaya untuk menjaga kehormatan keduanya. ( kemenag, 2017). Kondisi tertentu yang dimaksudkan tersebut yang dimaknai oleh para ulama klasik dengan definisi kondisi fisik dan agama. Beberapa ulama lainnya seperti imam hanbali, syafii, serta hanafi berpendapat aspek tersebut mencakup keturunan, kemerdekaan dan pekerjaan serta gelar pendidikan.

            Para ulama klasik juga menekankan bahwa konsep tersebut diperlukan bukan hanya menjaga kemashlahatan pihak perempuan tetapi juga menjaga kehormatan keluarga besar kedua pihak. Seiring berjalannya waktu, konsep kesepadanan pun cenderung didiskusikan dalam kerangka memfasilitasi kelangsungan ikatan pernikahan kedua mempelai ketimbang karena menjaga status sosial keluarga.

3000 KONFLIK CINTA

Pernikahan bahagia nan idaman sejatinya pasti menghadapi konflik didalamnya. Bagi barisan jomblo (QS 24:30-31), konflik terberat yang menciptakan kegalauan berkepanjangan yakni mengenai jodoh dan pernikahan (QS 24:33). Sementara bagi sejawat pasutri, justru “ pernikahan” jauh lebih kompleks menjadi sebuah konflik baginya terlebih jika terjadi kesalahan paradigma dalam memaknai pernikahannya. Terbayang baginya konflik selalu mencekik di setiap sudut pernikahannya : mencapai kesuksesan berumah tangga yang mendukung pekerjaannya, membesarkan anak-anak menjadi sukses dgn pandangan duniawi, hingga bagaimana menghadapi perbedaan dan kebosanan perasaan serta rutinitas semata-mata menjadi konflik dimata mereka yang semakin menyiksa karena parameter yang digunakannya pun ukuran duniawi yang bertopang pada budaya hedonis serta materialis (QS 25:43-44).

            Menurut Michael Gurlan dalam salah satu karyanya mengenai pola pemikiran laki-laki yang telah menikah yang sebelumnya ia mengumpulkan data penelitian hingga didapatkan gambaran bahwa selama 20 tahun terakhir, bagi dua sejawat pasutri pasti akan mengalami premis-premis konflik dalam setiap plot alur drama kehidupan keluarga; ada yang mampu menyelesaikan kisah drama keluarganya hingga plot ending terakhir namun jutru tidak sedikit yang stagnan dan terjerumus berhenti dalam plot dramanya tanpa dapat menyentuh yang menjadi ending alur kisah tersebut yang mana mayoritas ini ialah yakni yang memilih perceraian untuk berhenti di plot kisahnya tanpa sedikitpun menoleh bagaimana ending kisah keluarganya padahal jika saja ia berkeinginan kuat serta sabar, hanya butuh selangkah nyata menhadapi premis konfliknya maka ia terselamatkan dalam mengarungi drama keluarganya.

“Respectful communication under conflict or opposition is an essential and truly awe-inspiring ability.”

Potensi konflik diantara duan insan yang akan selalu bertemu setiap detiknya tentu memang sangatlah besar menggema. Rasa saling memahami tidak mungkin direngkuh dengan kilat secara otomatis setelah resmi akad nikah terucap. Maka sejatinya inilah dunia kenyataan, drama kehidupan yang sesungguhnya bukanlah semata sebuah skenario dramturgi duniawi. Perbedaan yang menjadi penyebab konflik inilah yang dalam pernikahan sesungguhnya suatu konflik adalah sebuah keniscayaan.

Dramaturgi yang diusungkan oleh Goffman (1959) dalam sebuah jurnalnya selayaknya sangat membatu menjelaskab fenomena bagaimana carut-marutnya topeng peran front stage yang dimainkan setiap individu manusia yang sangat egosentris tanpa memikirkan dampak dari permainan panggungnya pada masyarakat. Peran front stage tersebut pula yang terkadang menjadi pemicu trigger konflik dalam sepasang suami istri. Keterbukaan serta kejujuran diantara kedua sejawat pasutri akan menebalkan topeng front stage keduanya atau salah satu diantara mereka yang dalam posisinya justru merugikan “kerjasama” tim dalam keluarga. Saat pasangan mengetahui bagaimana back stage yang sebenarnya kemudian diselubungi dengan perasaan seolah dibohongi, dikhianati, serta meresa sebagai “korban” maka perkara kecil pun akan berpotensi menjadi trigger konflik peperangan maha dahsyat dalam keluarga.

            Keharmonisan dalam pernikahan adalah bukan perihal pernikahan yang tiada konflik satupun, namun sejatinya kondisi dimana kedua sejawat insan ini mampu menangani konflik yang muncul secara dewasa. Maka turbulensi yang menimpa pesawat rumah tangga kita seiring kita belajar dan bersabar bersama dalam menangani konflik akan kembali pada kondisi normal hingga seolah sudah tak terasa lagi goncangannya.

            Intinya, setiap hal tentunya membutuhkan proses. Mesin yang menciptakan barang instan pun memerlukan proses bagaimana merangkai hingga menghidupkan mesin tersebut. Begitu juga dengan pernikahan, jika kita mengabaikan pernikahan dan enggan menghadapi konflik hingga lebih memilih menghindar lari, niscaya bahtera rumah tangganya pun tetap berposes namun ironinya berproses pada kenyataan-kenyataan yang tidak diinginkan. Sama halnya dengan jika kita menghargai dan menyadari pernikahan hingga paham bagaimana bersabar dan belajar dalam menghadapi konflik yang terjadi, maka kebaikan yang Allah janjikan dalam pernikahan akan selalu hadir menemani hingga menjadikan perjalanan bahtera tersebut terasa manis, tentunya konflik tak berhenti hanya saja kedua insan tersebut jauh lebih dewasa dalam berjalan beriringan.

Logika Al-Quran menghadirkan kepada manusia bahwa konflik dibahasakan dengan kata aduw (permusuhan, pertentangan, konflik) yang digemakan 34 kali dalam Al-Quran yang memiliki makna substansi menyangkut proses konflik. Al-quran dengan jelas memberikan gambaran konflik khususnya konflik antar manusia yang sejatinya menjadi bahan dasar paradigma yang akan kita bentuk dalam menghadapi konflik (QS 10 :90, 2 : 36, 4:62).

karakter yang mendasari manusia tak dapat dihindari bagaimanapun juga ialah mengenai potensinya untuk mengalami konflik. (QS 18: 54). Bahkan menurut ibnu abbas, tiada sesuatu pun yang memiliki kecenderungan amat keras dalam konflik selain manusia. Bebagai potensi yang berbeda bahkan saling berlawanan dan bertabrakan selalu akan menjadi pemicu munculnya dinamika konflik. Sedangkan manusia sudah dipastikan tidak dapat mengelak dari ke-khas-an individu yang beraneka ragam.

Menurut Prof Agus Safei(2008) dalam salah satu karyanya mengungkapkan bahwa untuk itu Al quran memberikan jalan solusi dengan langsung berpusat pada akar masalahnya, yakni dibutuhkannya tanggungjawab dan cinta dalam mengikat konflik. Maknanya bahwa anugerah perbedaan status dan potensi yang dimiliki setiap pribadinya akan dipertanggungjwabakan dan bukan perkara yang patut untuk disandingkan sebagai perbandingan yang sejatinya justru untuk memberi, melengkapi serta saling menasehati (QS 103:1-3).

MOVE ON ≠ Melupakan

it’s time to move on,

Setiap insan di muka bumi tentunya pernah terluka, Orang dewasa dengan segala dilema yg dihadapinya maupun anak kecil dengan kepolosannya bisa, akan dan bahkan pernah terluka. entah pada akhirnya luka tersebut nampak maupun hanya luka kasat mata yang mampu membelenggu hati serta pikiran pemiliknya.

Mayoritas tentu akan mencari berbagai cara bagaimana menghilangkan luka tersebut. Tentunya kita pun selalu berharap bagaimana kita dapat terbebas dari belenggu masa lalu, terbebas dari rasa sakit luka tersebut dan bisa move on merangkai masa depan yg lebih baik. Namun, seolah rasa sakit dari hati yang patah mengikat kaki pemiliknya hingga ia sulit untuk bangkit berdiri kembali. Hati yang terluka terkadang menjadi sulit untu diobati hingga sang pemilik hati tersebut berakhir dengan gagal move on.

Lantas apakah move on dari luka masa lalu memang sesulit itukah ? Tidak adakah tips atau jurus jitu agar kita bisa move on dengan cepat ?

Sebenarnya bukan proses move on yang lama hanya saja meneguhkan niat serta kemauan untuk menyembuhkan luka lah yang sungguh lama serta sangatlah sulit. Barangkali secara sadar kita mengatakan ingin move on dan melupakan dia yang telah menyakiti hati kita tetapi dialam bawar sadar kita tak ingin melupakan kenangan tersebut, kita hanya terus meratapi dan mengulang ngulang penyesalan terhadap apa yang terjadi atau bahkan kita terus mencoba menyalahkan semua hal yg terkait dengan apa yang telah terjadi.

Orang-orang yang berpegang teguh pada rasa sakit masa lalu ini sering menghilangkan rasa sakitnya justru dengan terus mengulang-ulang rasa sakit tersebut dalam pikiran mereka.  Kadang-kadang seseorang bahkan bisa “terjebak” dalam rasa sakitnya.

Mengapa terjadi seperti demikian ?

Hakikatnya luka hati adalah perasaan. Dan move on yang selalu kita inginkan adalah mengenai bagaimana kita mendapatkan perasaan nyaman serta bahagia kembali, bagaimana kita bisa beranjak pindak dari perasaan sedih, kecewa, marah dan penyesalan menjadi perasaan yang jauh lebih positif.

Move on bukan perkara tentang melupakan sebuah objek dalam pikiran kita karena yang membedakan sebuah kenangan serta memori adalah perasaan yang hadir dari kenangan tersebut. Mengapa sebuah memori tentang suatu pelajaran dapat dengan mudah kita lupakan setelah ujian selesai sedangkan kenangan mengenai orang asing yang kita temui di jalan namun ia telah membuat kita tertawa karena suatu hal misalnya akan terus kita ingat karena perasaan senang dan sensasi dari tawa yg telah kita rasakan lah yang menjadikan kenangan tersebut hidup. Pada akhirnya otak seolah mendeteksi bahwa kenangan tersebut penting bagi pemiliknya.

Sama halnya dengan kenangan menyakitkan serta menyedihkan. Semakin kita berusaha menghilangkan kenangan dari kejadian menyedihkan tersebut maka sebenarnya kita terus mengulang kenangan tersebut diputar oleh otak kita. Semakin kita hanya fokus pada kenangan tsb maka akan sering diputar oleh otak dan pada akhirnya justru menjadi semakin sulit untuk menghilangkan rasa sakitnya.

Maka move on bukan lah perkara melupakan, tetapi perkara menerima perasaanmu kemudian genggamlah pilihan untuk berpindah pada perasaan yang baru. Move on memiliki makna berpindah, bergerak. Maka jika kita benar benar menginginkan bisa move on berarti yang harus kita lakukan adalah bergerak dan berpindah bukan melupakan. Berpindahlah dari perasaan yang menyelimuti mu selama masa menyedihkan tersebut, bergeraklah dari tempatmu agar kamu bisa melihat sudut pandang yang lain melihat kenanganmu hingga kau bisa mendapatkan perasaan yang baru muncul ketika melihat kenangan tersebut kembali.

Seperti halnya tatkala kita melihat suatu masalah.  Cara pandangmu melihat masalah akan menentukan bagaimana hati serta pikiranmu menghadapi masalah tersebut. Jika kau hanya berfokus pada siapa yang bersalah, apa penyebab semua ini terjadi maka kita hanya akan mendapatkan diri akan dan masih terjebak dalam masalah. Bukan berarti sudut pandang ini salah hanya saja jika kita tak melanjutkan langkah pada sudut pandang lainnya yaitu solusi apa yang dapat menyelesaikan masalah tersebut atau apa yang harus aku lakukan agar masalah ini selesai maka kita akan terus terjebak dalam perasaan penyesalan tanpa memperbaiki, perasaan menyedihkan tanpa bersyukur akan sesuatu yg masih kita miliki.

Holly Browns mengatakan “The problem with blaming others is that it can often leave you powerless. For example, you confront the person (your boss, your spouse, your parent, your child), and they say, “No, I didn’t,” or worse, “So what if I did?”, then you’re left with all this anger and hurt and no resolution. All your feelings are legitimate. It’s important to feel them fully, and then move on. Nursing your grievances indefinitely is a bad habit, because (as the title goes) it hurts you more than it hurts them

Jadi, apa yang akan kita lakukan terhadap luka tersebut jauh lebih penting daripada hanya memikirkan  luka itu sendiri.  Bukankah kita sangat menginginkan untuk kembali menjadi hati yang bahagia dan lebih positif dalam kehidupan?  Atau apakah Anda lebih suka merenungkan tanpa henti tentang masa lalu dan sesuatu yang tidak dapat diubah?

Satu-satunya cara Anda dapat menerima sukacita dan kebahagiaan baru dalam hidup Anda adalah membuat ruang untuk itu.  Jika hati Anda dipenuhi dengan rasa sakit dan sakit hati, bagaimana Anda bisa terbuka terhadap sesuatu yang baru?.