Yuk Ta’aruf !

Ta’aruf berasal dari ta’arrofa yang artinya menjadi tahu, yang asal akarnya ‘a-ro-fa yang berarti mengenal-perkenalan. Mengenai makna dasar ta’aruf diperkuat dengan penjelasan Al-Qur’an Surah Al-Hujurah ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ الله أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ الله عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Yang artinya:“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku lit a’ārafū (supaya kamu saling kenal)… sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi amah mengenal.”(QS. Al-Hujurat : 13).
Pengalaman menemukan makna cinta merupakan sebuah peristiwa pengalaman yang unik bagi individu. Erikson (Hall & Lindzey, 1993). Proses penemuan makna cinta dalam proses ta’aruf memiliki dinamika yang khas dan unik dibandingkan dengan proses pacaran pada umumnya menuju pernikahan. Menurut Hana (2012), ta’aruf adalah proses perkenalan dalam rangka mengetahui lebih dalam tentang calon suami atau istri. Sedangkan ta’aruf dalam bahasa arab artinya saling mengenal. Ta’aruf bertujuan untuk mengenal agama dan akhlak dari calon pasangan. Hal ini termasuk diperbolehkan dengan melakukan interaksi dengan syarat yaitu tidak berkhalwat, dan menjaga topik pembicaraan sehingga tidak membuka pintu perbuatan haram (Hasbullah, 2012).
Hidayat mengutip dari Sukamdiarti bahwa ta’aruf adalah komunikasi timbal balik antara laki-laki dan perempuan untuk saling mengenal dan saling memperkenalkan diri. Fenomena ta’aruf yang didenotasikan suatu ritual pranikah adalah sebagai berikut:


a) Saling tukar menukar data diri sebagai perkenalan pertama, bahkan dengan bertukar foto masing-masing.


b) berjumpa pertama kali atau “melihat”. “melihat” inilah yang sebenarnya sesuai sunnah Nabi SAW, sebab Beliau SAW ketika salah seorang menyatakan akan menikah dengan si fulanah, beliau bertanya apakah sudah pernah melihat fulanah tersebut? Kemudian Beliau menganjurkan sahabat tersebut untuk melihatnya, dengan alasan: “karena melihat membuat engkau lebih terdorong untuk menikahinya”.


c) Proses dilanjutkan dengan “hubungan” dengan maksud memperjelas perkenalan, yaitu mungkin dengan surat menyurat, sms atau telepon atau pertemuan lain dengan komposisi yang sama.


d) Selanjutnya kedua pihak mulai melibatkan orang tua,


e) Jika sudah bicara teknis artinya sudah dalam proses menuju pernikahan.

Frankl (1963) mengemukakan bahwa cinta adalah tujuan tertinggi yang dapat dicapai manusia. Tujuan ini yang mendasari manusia untuk terus menemukan makna dari kehidupan yang dijalani. Individu dapat saling memberikan dukungan, saling membantu dalam mengatasi kesulitan bersama ataupun masing-masing, dan dapat saling meningkatkan keyakinan diri individu untuk menemukan makna hidup melalui cinta kasih (Iriana, 2005). Dengan mencintai orang lain, individu dapat membuat orang yang dicintainya menemukan maknanya sendiri dan dengan melakukan hal itu, individu sendiri menemukan makna bagi kehidupannya sendiri.
Cinta yang tersusun atas komitmen, keintiman dan hasrat menjadikan individu dapat menumbuhkan cinta pada pasangannya. Pencarian individu terhadap cinta dan pasangannya melalui metode ta’aruf dengan segala proses yang dijalani di dalamnya diharapkan dapat memunculkan nilai-nilai yang memberikan makna pada kehidupan individu. Hal tersebut yang mendorong ketertarikan peneliti untuk meneliti bagaimana penemuan makna cinta pada individu yang menikah melalui proses ta’aruf.

Kapan Aku Menikah ?


Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage.” 
― Lao Tzu

Islam mensyari’atkan pernikahan untuk membentuk mahligai keluarga sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan hidup. Islam juga mengajarkan pernikahan merupakan suatu peristiwa yang patut disambut dengan rasa syukur dan gembira. Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tatacara ataupun proses sebuah pernikahan yang berlandaskan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih.

Di dalam Fiqh para ulama menjelaskan bahwa menikah mempunyai hukum sesuai dengan kondisi dan faktor pelakunya. Hukum tersebut adalah (As-Sayyid Sabiq, 1973:15):

  1. Wajib
    Bagi orang yang sudah mampu menikah, nafsunya telah mendesak dan takut terjerumus dalam perzinaan, maka ia wajib menikah. Karena menjauhkan diri dari perbuatan haram adalah wajib
    Allah berfirman dalam QS An-Nur 33:

لْيسشََََُِِِِِّْ َّيْغَِ َِِِْ و َ َتعفف الين ل يدون نكاحا حت ُ نيم ا َّ ُل من فضله
ًَََ

Artinya : “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.”

  1. Sunnah
    Bagi orang yang nafsunya telah mendesak dan mampu menikah, tetapi masih dapat menahan dirinya dari perbuatan zina, maka sunnah baginya menikah. Nikah baginya lebih utama daripada bertekun diri beribadah.
  2. Haram
    Bagi seseorang yang tidak mampu memenuhi nafkah batin dan lahirnya kepada istri serta nafsunyapun tidak mendesak, maka ia haram menikah.
  3. Makruh
    Makruh menikah bagi seseorang yang lemah syahwat dan tidak mampu memberi belanja kepada istrinya. Walaupun tidak merugikan istri, karena ia kaya dan tidak mempunyai keinginan syahwat yang kuat
  4. Mubah
    Bagi orang yang tidak terdesak oleh alasan alasan yang mengharamkan untuk menikah, maka nikah hukumnya mubah baginya.

Sumpah Pemuda Atas Nama Cinta

“It is not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages.” 
― Friedrich Nietzsche

Suatu malam Dewi bermimpi:

Ia dibonceng Albert bersepeda

Lepas gembira melewati sawah dan bukit. Inikah pertanda mulai bersemi cintanya?

Semakin lama semakin deras perasaan sayangnya, Tapi sejak mulai disadarinya juga:

Mereka berlainan agama.

Siapa gerangan yang akan memisahkan cinta remaja?

Mengenali perasaan cinta saja belum dapat membuat kita mampu mencintai karena kita seringkali salah dalam mengartikan perasaan cinta kita. Seorang anak bisa merasa orangtuanya tidak mencintainya ketika memaksa dirinya untuk pergi ke dokter gigi yang sangat ia benci. Padahal orangtuanya melakukan hal tersebut dengan penuh cinta supaya anaknya dapat segera sembuh.

Orang-orang yang sedang jatuh cinta mempunyai kadar cinta yang berbeda-beda, ada yang sangat intim dan mesra, tetapi tidak jarang terlihat pasangan tersebut sering bertengkar bahkan ada yang bercerai walaupun sudah menikah. 

Menurut Sternberg (1988), cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepriba- dian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Kisah pada setiap orang bera- sal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, apa- kah dari orang tua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan.

Maka sejatinya cinta tetaplah harus menapak naluri berlandaskan logika.

Bolehlah kita terbuai oleh sebuah rasa atau terhanyut dalam kebahagiaan yang dihadirkan hormon endorpin dari sebuah kata cinta tetapi tetaplah ingat bahwa keputusan atas nama cinta tanpa komitmen akal hanya akan menguap dan hilang.  Janji janji atas nama cinta tanpa saksi hanya akan saling menyakiti. Hingga Ikrar Sumpah atas nama cinta tanpa keimanan hanya akan berakhir tanpa kenyamanan.  

Tahap Tahap Cinta

Pacaran yang dijalankan oleh kedua individu bukan hanya sekedar perasaan saling menyukai, tetapi bagaimana kedua individu tersebut dapat saling berbagi dan menerima keadaan satu sama lain.

Abraham Maslow berpendapat, individu yang menjalankan pacaran akan mendambakan hubungan yang penuh kasih sayang dan cinta kepada orang lain dan individu akan berusaha untuk mencapai hubungan tersebut. Jika dikaitkan dengan teori psikoseksual dari Sigmun Freud, masa-masa pacaran termasuk pada tahap kelima yaitu tahap genital yang fokus pada kematangan alat reproduksi individu.


Menurut Ibn Taymiyah (1978) cinta mempunyai tahap-tahap tertentu.

Tahap paling awal disebut sebagai al-‘Alaaqah, kemudian diikuti oleh al-Sababah, al-Gharam, al-‘Isyq dan yang tertinggi adalah al-Tatayyum.

Al-‘Alaaqah merujuk kepada hubungan hati terhadap perkara yang dikasihi. Sementara al- Sababah pula berkaitan dengan perasaan halus yang cenderung kepada sesuatu perkara itu. Manakala al-Gharam pula bermaksud cinta yang berterusan terhadap sesuatu.

Al-‘Isyq pula adalah kebergantungan hati terhadap sesuatu yang dicintai. Peringkat yang tertinggi iaitu al-Tatayyum pula bermakna menghambakan diri sepenuhnya terhadap sesuatu yang dikasihi itu (Ibn Taymiyyah 1978).

Dalam konteks ini al-Tatayyum adalah sama erti dengan istilah al-Ta’abbud (Ibn Abi al-Izz 1987). Selain dari itu terdapat juga istilah-istilah lain yang dikaitkan dengan cinta. Antaranya adalah seperti istilah al-Syaghaf (Ibn Abi al-Izz 1987). Ia merupakan perasaan cinta yang sampai ke penutup pintu hati. Maksud ini disebut oleh Allah di dalam surah Yusuf, ayat 30 yang bermaksud:


Sesungguhnya cintanya terhadap anak muda itu (nabi Yusuf a.s) adalah sangat mendalam”.

Problematika Cinta

Mencintai dan dicintai adalah rangkaian aksi dan sebuah harapan yang menjadi satu melebur dengan sebuah perasaan yag sering kita gaungkan sebagai cinta. Ada yang mengatakan sepasang hati yang telah terpaut cinta merasa dunia bagaikan mabuk tak sadarkan diri. 

Cinta bukanlah satu topik perbincangan yang baru dalam kalangan Sarjana. Terdapat banyak penulisan yang dihasilkan tentang cinta sepanjang sejarah dari zaman kuno hingga ke zaman moden. Walau bagaimanapun kajian saintifik tentang cinta hanya bermula pada kurun ke 20 (Stenberg, 2015). 

Menurut konsultan hubungan Sheryl Paul, MD dikutip dari Huffington Post, banyak pasangan terjatuh dalam lubang permasalahan yang sama setiap hari karena mereka tidak tahu bagaimana komunikasi harusnya dibangun. Lantas, apa sebenarnya yg seharusnya diperbaiki ?

Cinta telah dilihat sebagai satu elemen modern yang bertanggungjawab sebagai permulaan bagi sesebuah hubungan intim dan seterusnya membawa kepada pembentukan keluarga (Malta, 2013). Stenberg menjelaskan bahawa komponen terpenting dalam cinta di antaranya adalah ghairah dan keintiman. 

Maka sejatinya jika terjadi permasalahan perihal cinta terutama bagi sepasang suami istri tetaplah jaga komponen keintiman baik secara komunikasi maupun fisik. Maksudnya disini adalah tetaplah jaga dan rawat komunikasi dengan baik, dan jangan pernah bergantung kepada orang lain meskipun dia sahabat atau teman terdekat, tapi percayalah hanya dia patner kita,satu satunya yang sanggup dan layak menjadi tempat bersandar curhat berbagi. Karena konteks curhat adalah tentang intimacy. Curhat adalah zona pinte pertama sebuah intimacy dan privasi hati seseorang. Meskipun kita hanya curhat tentang masalah belanja bulanan fisik yang menurutkita gak penting. Tetapi ketika kita curhat sembarangan, bukan pada tempat yang tepat. Maka komunikasi merenggang dan kesalahfahaman semakin menganga lebar. 

Mengenal Hati Sang Cinta

Mengenal cinta adalah perjalanan yg Takan pernah berakhir tanpa memberikan kenangan

Cinta adalah anugerah Ilahi. Cinta punya bahasanya sendiri. Selalu bergerak dari hati ke hati, yang nada mistisnya hanya cinta yang mengetahui. Karena itu, bila ada cinta di hati yang satu, pasti ada cinta di hati yang lain lagi. Demikian menurut sebait puisi Persia.

cinta terlalu sulit untuk didefinisikan, karna cangkupanmaknanya yang terlalu luas dan tak terbatas. Cinta berhubungan denganemosi, bukan dengan intelektual seseorang. Perasaan lebih berperandalam cinta daripada proses intelektual. Walaupun demikian cinta dapatdiartikan sebagai keadaan untuk saling mengerti secara dalam danmenerima sepenuh hati

Bersatu dengan orang lain adalah kebutuhan terdalam dari setiap manusia, kata Erich Fromm. Basis kedekatan adalah komunikasi. Karena setiap manusia sudah mengalami ketersendirian, maka mereka merindukan bisa bersatu dengan orang lain melalui cinta.

Menurut Eric Form untuk mengenal pasangan kita lebih dekat serta mencintainya lebihd dalam maka konsep cinta itu harus terdiri dari 4 unsur yaitu:
○ Care (perhatian); sangat diperlukan dalam prilaku yang disebutcinta agar dapat memahami kehidupan, perkambangan majumundur, baik burut, dan bagaimana kesejahteraan objek yangdicintai.
○Responsibility (tanggung jawab); tanggung jawab diperlukandalam menjalin hubungan. Sebab tanpa adanya tanggung jawabtidak akan ada pembagian yang seimbang. Tanggung jawab disinibukanlah untuk mendikte objek yang dicintai sekehendak kita, tapibagaimana keterlibatannya dalam kehidupan objek yang dicintai.
○Respect (hormat); hal ini menekankan bagaimana menghargaidan menerima objek yang dicintai apa adanya dan tidak bersikapsekehandak hati.
○Knowledge (pengetahuan); pengetahuan diperlukan gunamengetahui seluk beluk yang dicintai. Dengan demikian kita dapatmembidik target yang kita incar, dengan kata lain tak kenal makatak sayang. Bila objek yang kita bidik itu adalah manusia, makaharus kita kenali dan pahami bagaiman kepribadian

Tidak selayaknya seseorang menyepelekan dalam memilih sahabat, karena persahabatan memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi seseorang. Persahabatan dan cinta adalah kunci bahagia.

Rumah tangga bagaikan surga
Bila suami istri suka sekata.
Suami istri cinta agama
Perkawinan mereka akan sentosa.

Suami istri suka mengaji
Silang sengketa sukar terjadi.
Suami istri suka belajar
Silang sengketa akan terhindar.
(Sulaiman Yusuf)

Komitmen Cinta

Close-up of hands of elderly couple

Dalam sebuah hubungan antara pria dan wanita seringkali kita mendengar istilah komitmen cinta. Istilah ini memang lebih sering dihubungkan dengan cinta yang terjadi antara pria dan wanita. Mengapa demikian? Padahal cinta dapat terjadi pada siapa dan apa saja, tidak hanya antara pria dan wanita. Ada cinta orangtua dengan anaknya, cinta kakak dengan adiknya, dan lain sebagainya.

Hal ini karena cinta antara pria dan wanita dimulai dari dua orang yang tidak mempunyai hubungan darah dan tidak saling mengenal sehingga diperlukan sebuah komitmen agar kedua belah pihak dapat menjalani hubungan dengan baik dan saling menghargai apapun masalah atau cobaan yang datang. Ditambah lagi hubungan ini rentan dengan kejenuhan dan godaan yang datang dari luar.

Definisi komitmen cinta adalah cinta yang bersifat jangka panjang bukan hanya sekedar berpacaran menghabiskan waktu dan bersenang-senang belaka. Contoh komitmen cinta yang paling nyata adalah komitmen untuk membina hubungan rumah tangga.

menurut Psikologikita.com Komitmen diartikan sebagai keadaan psikologis ketika seseorang merasa terikat atau terhubung dengan orang lain dan secara langsung akan mempengaruhi keputusan seseorang untuk melanjutkan atau mengakhiri sebuah hubungan. Ketika kedua pasangan memiliki komitmen yang tinggi maka pasangan tersebut akan merasa sangat terikat pada satu sama lain dan tidak memiliki keinginan untuk menyerah dan mengakhiri hubungan, mereka akan berupaya memperbaiki hubungan ketika menghadapi sebuah konflik.

Salah satu alasan yang melatarbelakangi kenapa seseorang susah berkomitmen adalah karena dia takut pada cinta yang membutuhkan timbal balik. Sebagaimana dikatakan oleh seorang filsuf China, Lao Tzu, bahwa sangat dicintai oleh seseorang memberi Anda kekuatan, sementara mencintai seseorang secara mendalam memberi Anda keberanian. Komitmen membutuhkan cinta yang saling timbal-balik bukan sepihak.

Komitmen yang terjalin dalam sebuah hubungan pada umumnya merupakan sebuah hasil dari suatu proses ketimbang muncul secara spontan dan tiba tiba. Komitmen akan muncul ketika pasangan merasa saling nyaman dan sama samamemiliki kepuasan dalam menjalani hubungan.

Cinta Tanpa Syarat

Banyak yang bilang kalau cinta yang tulus adalah orang yang mau menerima belahan hatinya apa adanya. Sekali lagi, apa adanya. Apakah kamu pernah terbesit pertanyaan dalam hati, bagaimana rasanya menerima seseorang apa adanya dan seperti apa sih cinta tanpa syarat itu? Atau apakah cinta tanpa syarat itu hanya mitos yang dibuat-buat supaya kisah cinta seseorang nggak terdengar terlalu menyedihkan?

Seseorang yang mencintai segala kelebihannya. Ia mengerti orang yang dicintainya luar-dalam. Ia yang paling memahami keadaan orang yang dicintainya. Orang orang umumnya mengatakan ini adalah cinta tanpa syarat

Cinta ‘tak bersyarat’ memiliki arti bahwa seseorang tidak menghiraukan kondisi berkekurangan yang telah ada di kehidupan pasangan, seperti kekurangan fisik, disabilitas, status sosial dan lain-lain. Cinta tak bersyarat dapat dikaitkan dengan Triangular Theory of Love milik Sternberg, dengan kategori Companionate love yaitu cinta yang terdiri dari kedekatan secara emosional.

Menurut pakar, cinta itu buta, karena buta maka cinta itu tak bersyarat. Benar juga sih, sebab mendefinisikan cinta sangat sulit sesulit menebak hati wanita. Katanya ..
Benarkah cinta itu buta dan tidak bersyarat? Ternyata, tidak juga. Cinta kepada Allah, justru bersyarat, tidak buta, logis, mudah didefinisikan dan diaplikasikan. Allah berfirman:

“Katakan (Wahai Nabi): Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Nabi). Maka, Allah akan mencintai kalian dan menghapus dosa-dosa kalian“. (QS. Ali Imran, ayat 31)

Seyogianya cinta adalah love is all, it gives all, it takes all.
Pun perlu diketahui bahwa cinta itu tidak melulu tentang kesenangan, cinta itu sangat dekat dengan penderitaan. Karena penderitaan adalah bagian paling penting waktu kita mau mengenali cinta. Mustahil kita mengalami cinta sejati kalau kita takut terluka. True love harus dialami dengan rasa sakit, sebab cinta yang sejati adalah cinta yang tak mudah menyerah, karena jika mencintai seseorang, maka kesusahan akan menjadi perekat cinta

Love Yourself : finding true love

Ketika orang-orang mulai lebih mencintai diri mereka sendiri setiap hari, sungguh menakjubkan bagaimana kehidupan mereka menjadi lebih baik. Mereka merasa lebih baik. Mereka mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan. Mereka punya uang yang mereka butuhkan. Hubungan mereka membaik, atau yang negatif bubar dan yang baru dimulai.

Ini adalah premis yang sangat sederhana — mencintai diri sendiri. Saya sering disindir karena terlalu sederhana, dan saya telah menemukan bahwa hal-hal sederhana biasanya yang paling mendalam.

Seseorang berkata kepada saya baru-baru ini, “Anda memberi saya hadiah paling indah — Anda memberi saya hadiah untuk diri saya sendiri.” Begitu banyak dari kita bersembunyi dari diri kita sendiri dan kita bahkan tidak tahu siapa kita. Kami tidak tahu apa yang kami rasakan, kami tidak tahu apa yang kami inginkan.

Hidup adalah perjalanan penemuan diri. Bagi saya, menjadi tercerahkan adalah masuk ke dalam dan untuk mengetahui siapa dan apa kita sebenarnya, dan untuk mengetahui bahwa kita memiliki kemampuan untuk berubah menjadi lebih baik dengan mencintai dan menjaga diri kita sendiri.

Tidak egois untuk mencintai diri sendiri. Itu menjernihkan kita sehingga kita bisa cukup mencintai diri sendiri hingga mencintai orang lain. Kita benar-benar dapat membantu planet ini ketika kita datang dari ruang cinta dan kegembiraan yang besar secara individual.

Kekuatan yang menciptakan Alam Semesta yang luar biasa ini sering disebut sebagai cinta. Tuhan adalah cinta. Kita sering mendengar pernyataan: Cinta membuat dunia berputar. Semuanya benar. Cinta adalah agen pengikat yang menyatukan seluruh Semesta.

“To be beautiful means to be yourself. You don’t need to be accepted by others. You need to accept yourself.” ~Thich Nhat Hanh

Keputusan paling penting dalam hidup mu, yang akan memengaruhi setiap keputusan lain yang kamu buat, adalah komitmen untuk mencintai dan menerima diri sendiri. Ini secara langsung mempengaruhi kualitas hubunganmu, pekerjaanmu, waktu luangmu , iman yang kamu miliki, dan masa depanmu.

Jadi, mengapa hal ini sangat sulit dilakukan?
Merasa layak mengharuskan kita melihat diri sendiri dengan mata kesadaran diri dan cinta yang segar. Penerimaan dan cinta harus datang dari dalam.

Kamu tidak harus berbeda untuk menjadi layak. Nilaimu ada dalam sifat sejati dirimu sendiri, inti cinta dan kebaikan batin. Kamu adalah cahaya yang indah. Kamu adalah cinta. Kita bisa mengubur keindahan kita, tetapi tidak mungkin untuk dihancurkan.

Mencintai diri sendiri bukanlah peristiwa satu kali. Ini adalah proses tanpa akhir yang berkelanjutan.

Itu dimulai dengan merangkul dirimu dalam kasih sayang dan penghargaan kamu dengan caramu sendiri.

Bagaimana caranya merangkul hati kita sendir ? : berikut adalah tips dari heartenly

  1. Mulailah harimu dengan cinta (bukan teknologi).
    Ingatkan dirimu bahwa kamu sangat berarti hadir di dunia ini sebelum bangun dari tempat tidur. Bernapas dalam cinta dan hembuskan cinta. Rangkullah dirimu dalam cahaya. Nikmati waktumu tanpa gedget tapi dengan rutinitas yg sangatkamu sukai
  2. Luangkan waktu untuk bermeditasi dan membuat jurnal.
    Luangkan waktu untuk fokus ke dalam setiap hari. Mulailah dengan meditasi lima menit dan jurnal lima menit setiap pagi. Tingkatkan waktu ini secara bertahap.
  3. Bicaralah sendiri dengan senang hati.
    Gunakan afirmasi untuk melatih pikiramu untuk menjadi lebih positif.
  4. jujurlah secara emosional.
    Lepaskan kebiasaan menekan perasaanmu sendiri. Belanja, makan, dan minum adalah contoh dari menekan perasaanmu, menghindari ketidaknyamanan, kesedihan, dan rasa sakit. Sadari perasaan dan emosimu sendiri.
  5. Perluas minat Anda.
    Mencoba sesuatu yang baru. Belajar sebuah bahasa. Pergi ke tempat-tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Lakukan hal-hal yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya. Kamu memiliki hak untuk hidup yang luar biasa.
  6. Nikmati aktivitas yang meningkatkan kehidupan.
    Temukan olahraga yang Anda sukai. Temukan makanan sehat yang baik untuk Anda. Matikan teknologi selama sehari dan habiskan waktu melakukan hal-hal yang membuat Anda merasa hidup.
  7. Bersedia untuk menyerah.
    Tarik napas, rileks, dan lepaskan. Kita tidak akan pernah bisa menerka apa yang akan terjadi kedepannya. Berhentilah bertempur melawan diri sendiri dengan berpikir dan menginginkan seperti kehidupan orang lain atau coba orang lain yang berada di nasib ini .
Note : inspired by Joanna Platt Coaching 

LOVE MYSELF ; Self-Care is Not Selfish

SELF-CARE FILLS YOU UP SO THAT YOU CAN BE PRESENT FOR THE OTHER PEOPLE IN YOUR LIFE AND SO THAT YOU HAVE THE ENERGY TO MAKE THE TYPE OF IMPACT YOU WANT TO MAKE IN THE WORLD.” – Joanna Platt

Hai Sahabat Heartenly
Berbicara mengenai cinta tidak akan pernah bosan di telinga. Saya teringat tentang bagaimana Erich Fromm mengambarkan cinta sebagai sebuah Seni paling menakjubkan yang Tuhan hadirkan dalam diri manusia. Dalam The Art of Loving karya Erich Fromm seorang Psikoanalisis berkebangsaan Amerika, Bagi Fromm cinta adalah seni. Karena itu, cinta merupakan sesuatu yg dapat dipelajari. Cinta tidak hadir secara alamiah;Ia bukanlah sesuatu yang kita lakukan secara naluriah. Mencintai adalah keterampilan yang harus dipelajari dan dipraktekkan dlm kebiasaan sehari-hari secara aktif.
Banyak diantara kita telah tertanam suatu ide bahwa kita memiliki hak untuk dicintai oleh orang lain Imbasnya, kita memiliki kecenderungan untuk selalu menunggu, secara pasif, hadirnya orang lain untuk mencintai kita, dan selanjutnya kita merasa diperlakukan tidak adil ketika tidak ada orang lain yang mau perduli atas diri kita. Kebalikan dari itu, agar cinta senantiasa hadir, seseorang harus aktif bertindak; seseorang harus menunjukkan cintanya. Kata Erich Fromm, cinta memerlukan ikhtiar lebih banyak dari pada sekedar kepasifan kita.Oleh karena itu, implikasinya adalah bahwa, jika kita berharap untuk menerima cinta, maka kita sendiri harus terlebih dahulu memberikan cinta. Cinta bukanlah “Jalan satu arah”.

Selain itu, cinta itu aktif dan bukan pasif, maka cinta itu sejatinya memberi. Sampai pada titik ini cinta acapkali dipahami secara keliru.Banyak orang menafsirkan hal ini dengan memaknai cinta sebagai “berserah diri”, yaitu pengorbanan suci, atau keadaan yg terlepas dari sesuatu. Mereka acapkali juga merasa bahwa cinta merampas kebebasannya sebagai individu. Fromm mengatakan bahwa pemahaman seperti itu tidak benar, paling tidak untuk dua alasan:

Pertama, cinta tidak terbatas memberi dalam bentuk materi.
Kedua, menghargai diri sendiri dalam mencintai, cinta adalah memberi teruntuk orang yang kita cintai juga untuk diri kita sendiri yang berarti artinya bukan mengorbankan kebebasan kita sebagai individu. Catat ya !

Tipe cinta yang jauh lebih penting adalah cinta diri.kadang terasa aneh berbicara tentang cinta diri, Fromm justeru menunjukkan bahwa bukanlah ini masalahnya. Alasannya, pertama, kita harus membedakaan antara cinta diri dengan keegoisan diri. Keegoisan diri adalah satu bentuk egotisme yang tidak ada hubungannya dengan cinta. Bagi Fromm. orang yang mementingkan diri sendiri atau egois sebenarnya tidak mencintai dirinya sendiri sebab keegoisan diri memisahkan dirinya dari orang lain dan membuat dirinya menderita kesunyian dan kesendirian. Sebaliknya, seseorang yang di dalam dirinya penuh cinta lantaran mencintai semua orang berarti juga mencintai dirinya sendiri. Jika saya mencintai sesama sebagai sesuatu yang baik maka mencintai diri saya sendiri seharusnya juga menjadi hal yang baik.Gagasan semacam inilah yang terungkap di dalam Bible, “Cintailah sesama sebagaimana mencintai diri sendiri”. Ungkapan ini berimplikasi pada, cinta untuk diri sendiri tidak dapat dipisahkan dengan cinta pada orang lain

Sejauh ini orang bahkan mengatakan bahwa jika saya tidak dapat mencintai diri saya sendiri terlebih dahulu, maka saya tidak akan mampu mencintai orang lain. Jika saya tidak mencintai diri saya sendiri, yakni: jika saya tidak memiliki keyakinan dengan diri saya sendiri sebagai seseorang yang berharga untuk dicintai, maka saya akan selalu merasa gelisah dan terus akan menggantungkan hubungan saya dengan orang lain

Seni Cinta

Kebanyakan dari kita menjalani hidup dengan kekhawatiran terhadap apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Kita berusaha untuk terlihat baik dan membuat orang lain berpikir positif tentang kita. Kita menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencoba menjadi seperti dan bertindak sesuai harapan orang lain, hal ini membuat kita menjadi resah karena setiap orang akan mengharapkan hal yang berbeda-beda dari kita. Di samping itu, apakah yang menjadi motivasi kita, ketika berusaha menjadi sesuai harapan orang lain? Apakah kita bertindak dengan ketulusan, ataukah hanya berusaha menyenangkan orang lain? Apakah kita hanya berpura-pura supaya orang lain akan memuji kita?
Kita dapat berpura-pura dan menciptakan citra diri, dan orang lain mungkin akan memercayai bahwa citra diri itu adalah diri kita yang sesungguhnya. Bagaimana pun juga, kepura-puraan tidak akan berarti dalam kehidupan kita karena kita harus hidup dengan diri sendiri. Kita akan menyadari saat melakukan kebohongan, walaupun orang lain mungkin memuji kita untuk citra yang kita ciptakan, hal ini akan membuat kita merasa tidak nyaman dengan diri sendiri. Di dalam hati kita tahu, kita sudah membohongi diri sendiri. Kita akan menjadi lebih bahagia ketika kita bersikap tulus dan nyaman menjadi diri sendiri.
Sama halnya dengan mencintai pasangan kita seharusnya bermula dari kita bisa mencintai diri kita sendiri. Simpelnya jika kamu ingin orang lain mencintaimu dengan tulus maka cintailah dirimu sendiri dengan tulus. Kamu menjalin hubungan dengan pasanganmu, berharap dia dapat mencintaimu sepenuh hati. Tapi tidak perduli apapun yang ia lakukan, sebesar apapun usahanya untuk menyayangi kamu, entah kenapa tidak pernah bisa membuatmu puas. Kamu nggak pengen dicintai dengan caranya dia, tapi kamu juga tidak tahu mau dicintai dengan cara apa. Lalu kamu menyalahkan pasangan karena dia tidak dapat membuat kamu bahagia.
Padahal, memiliki hubungan yang baik dengan diri sendiri sama pentingnya dengan menjalin hubungan dengan orang lain. Bahkan mungkin jauh lebih penting lagi. Jadi, mulailah belajar mencintai diri sendiri.
Cinta adalah seni. Maka jika ingin menciptakan seni yang indah bukan tergantung pada penontonya. Tetapi sang pemain alat seninya harus mencintai karyanya sendiri maka orang lain akan jauh lebi besar mencintai karyanya pula.