Yuk Ta’aruf !

Ta’aruf berasal dari ta’arrofa yang artinya menjadi tahu, yang asal akarnya ‘a-ro-fa yang berarti mengenal-perkenalan. Mengenai makna dasar ta’aruf diperkuat dengan penjelasan Al-Qur’an Surah Al-Hujurah ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ الله أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ الله عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Yang artinya:“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku lit a’ārafū (supaya kamu saling kenal)… sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi amah mengenal.”(QS. Al-Hujurat : 13).
Pengalaman menemukan makna cinta merupakan sebuah peristiwa pengalaman yang unik bagi individu. Erikson (Hall & Lindzey, 1993). Proses penemuan makna cinta dalam proses ta’aruf memiliki dinamika yang khas dan unik dibandingkan dengan proses pacaran pada umumnya menuju pernikahan. Menurut Hana (2012), ta’aruf adalah proses perkenalan dalam rangka mengetahui lebih dalam tentang calon suami atau istri. Sedangkan ta’aruf dalam bahasa arab artinya saling mengenal. Ta’aruf bertujuan untuk mengenal agama dan akhlak dari calon pasangan. Hal ini termasuk diperbolehkan dengan melakukan interaksi dengan syarat yaitu tidak berkhalwat, dan menjaga topik pembicaraan sehingga tidak membuka pintu perbuatan haram (Hasbullah, 2012).
Hidayat mengutip dari Sukamdiarti bahwa ta’aruf adalah komunikasi timbal balik antara laki-laki dan perempuan untuk saling mengenal dan saling memperkenalkan diri. Fenomena ta’aruf yang didenotasikan suatu ritual pranikah adalah sebagai berikut:


a) Saling tukar menukar data diri sebagai perkenalan pertama, bahkan dengan bertukar foto masing-masing.


b) berjumpa pertama kali atau “melihat”. “melihat” inilah yang sebenarnya sesuai sunnah Nabi SAW, sebab Beliau SAW ketika salah seorang menyatakan akan menikah dengan si fulanah, beliau bertanya apakah sudah pernah melihat fulanah tersebut? Kemudian Beliau menganjurkan sahabat tersebut untuk melihatnya, dengan alasan: “karena melihat membuat engkau lebih terdorong untuk menikahinya”.


c) Proses dilanjutkan dengan “hubungan” dengan maksud memperjelas perkenalan, yaitu mungkin dengan surat menyurat, sms atau telepon atau pertemuan lain dengan komposisi yang sama.


d) Selanjutnya kedua pihak mulai melibatkan orang tua,


e) Jika sudah bicara teknis artinya sudah dalam proses menuju pernikahan.

Frankl (1963) mengemukakan bahwa cinta adalah tujuan tertinggi yang dapat dicapai manusia. Tujuan ini yang mendasari manusia untuk terus menemukan makna dari kehidupan yang dijalani. Individu dapat saling memberikan dukungan, saling membantu dalam mengatasi kesulitan bersama ataupun masing-masing, dan dapat saling meningkatkan keyakinan diri individu untuk menemukan makna hidup melalui cinta kasih (Iriana, 2005). Dengan mencintai orang lain, individu dapat membuat orang yang dicintainya menemukan maknanya sendiri dan dengan melakukan hal itu, individu sendiri menemukan makna bagi kehidupannya sendiri.
Cinta yang tersusun atas komitmen, keintiman dan hasrat menjadikan individu dapat menumbuhkan cinta pada pasangannya. Pencarian individu terhadap cinta dan pasangannya melalui metode ta’aruf dengan segala proses yang dijalani di dalamnya diharapkan dapat memunculkan nilai-nilai yang memberikan makna pada kehidupan individu. Hal tersebut yang mendorong ketertarikan peneliti untuk meneliti bagaimana penemuan makna cinta pada individu yang menikah melalui proses ta’aruf.

Menemukan Belahan Jiwa

“Cinta terbaik adalah yang membuat Anda menjadi orang yang lebih baik, tanpa mengubah Anda menjadi orang lain selain diri Anda sendiri” – Anonim.

Bagaimana orang memilih pasangan hidup? Dalam mencari dan memilih pasangan hidup biasanya melibatkan beberapa proses. Menurut Janda & Klenke-Hamel (1980) sebelum seseorang membuat keputusan untuk berkahwin mereka membuat saringan bagi mempastikan bahawa hanya orang yang sesuai dan layak sahaja akan diambil sebagai pasangan hidup. 

Proses saringan ini bermula dengan kerapatan dan kedekatan dan perkenalan, selepas mengenalpasti calon yang berpotensi kemudiannya mengenaplasti beberapa persamaan yang wujud. Selepas itu jika ciri-ciri di atas sesuai maka saringan berikutnya ialah menilai sama ada seseorang itu mempunyai daya tarikan seperti cantik dan akhirnya saringan yang terakhir ialah menilai sama ada calon tersebut ’boleh masuk’ (compatible) atau sepadan serta selaras dengan jangkaan dan peranan yang akan dimainkan oleh calon itu kelak. Jika semua ini dipenuhi, maka pasangan itu akan mengambil keputusan berkahwin untuk mengekalkan perhubungan mereka.

Di sepanjang proses saringan ini, akan berlaku beberapa halangan yang diwujudkan oleh masyarakat (seperti norma dan budaya) sehingga proses mencari calon yang sesuai menjadi sukar dan lambat. Contohnya individu cenderung untuk mencari pasangan yang banyak persamaan dengannya misalnya umur, etnik, agama, pendidikan dan lain-lain faktor demografi. Di Amerika Syarikat, kecenderungan ini dipanggil homogamy (mencari titik persamaan). Manakala bagi sesetengah budaya, lelaki lebih cenderung mencari pasangan hidup yang lebih muda

MENGENAL CINTA DARI HATI

. “Hubungan yang benar adalah dua orang yang tidak sempurna yang menolak untuk menyerah satu sama lain” – Anonim.

Secara psikologinya keinginan untuk berhubung, bersama dan berdamping dengan orang lain merupakan sebahagian daripada keperluan benda hidup seperti binatang dan manusia. Dalam konteks manusia keinginan untuk berhubung atau berkawan adalah sebahagian daripada keperluan asas manusia. Keinginan kepada orang lain bermula dengan mengenali, mempunyai persamaan dan akhirnya memulakan perkenalan dan menjalinkan hubungan. Agama Islam tidak menafikan keperluan asas ini namun keperluan ini perlu dibimbing dan dikawal supaya ia tidak tersasar dari ketetapan Allah SWT.

Hubungan rapat juga dikenali sebagai hubungan mesra (intimate relationship). Hubungan ini boleh diperhati berdasarkan kepada tiga sifat berikut iaitu sama ada wujudnya kerapatan emosi, memenuhi keperluan (sama ada fizikal, psikologikal atau seksual) dan kebergantungan antara satu sama lain. Hubungan rapat terbahagi kepada beberapa kategori iaitu persahabatan yang sangat rapat, hubungan antara ahli keluarga, hubungan antara teman sekerja dan hubungan romantik dan seksual. Contohnya kita menjadi rapat kerana keluarga. Menurut teori evolusi, keperluan kepada hubungan rapat adalah untuk tujuan penerusan survival gen.

Cinta itu tidak bisa dijelaskan seberapa besarnya, orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudra, bahkan langit. Namun tidak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Berbicara mengenai cinta memang memiliki arti yang luas, bisa cinta kepada orangtua, saudara, sahabat dan kekasih. Namun biasanya orang lebih sering galau jika disangkutkan dengan cinta terhadap kekasih. Oleh karenanya mereka membutuhkan motivasi untuk bisa bangkit kembali dari rasa sakit hati.

PUJANGGA LUKA

“Hanya karena kamu berbuat sebuah kesalahan, bukan berarti kamu adalah kesalahan” – Georgette Mosbacher.

Bagimu 

Yg memperjuangkan cinta

Namun dipatahkan hingga luka

Bersedihlah

Menangislah..

Sampai saatnya hatimu faham 

Bahwa ia yg meninggalkanmu tanpa alasan

Tidak pernah pantas mendengarkan alasanmu untuk bertahan…

Hati yg patah

Tak dapat meringis 

Krn luka tak memiliki suara

Cinta yg tak terbalas 

Takan berbuah kebahagiaan

Krn rasa yg tak memiliki tuan 

Tak dapat mengisi kekosongan jiwa

Dan ketika kau benar benar bangun dari kenyataan 

Kau akan sadar

Hatimu sedang dipulihkan

Hatimu terlalu berharga hanya sekedar untuk disakiti 

Bahkan terlalu berharga untuk disinggahi 

Manusia tanpa hati yg hanya berlalu lewat 

Tanpa pamit. 

CINTA DAN IMAN

Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hambanya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya.

Dalam konteks akidah, cinta mempunyai hubungkait dengan iman seseorang. Cinta tersebut terserlah melalui penghayatan dan amalan seseorang individu dalam kehidupan sehariannya sama ada melalui amalan zahir mahupun amalan batin. Hubungkait antara cinta dan iman dapat dilihat dalam beberapa kenyataan dari Rasulullah SAW.

  • Mengasihi saudara yang lain:

        Sabda Rasulullah SAW. yang bermaksud: “Tidak sempurna iman seseorang kamu sehinggalah dia mengasihi saudaranya sepertimana dia mengasihi dirinya”(al-Bukhariy, 2000).

  • Mengasihi para sahabat Rasulullah SAW.: Sabda Rasulullah SAW. yang bermaksud:“Tanda iman itu mengasihi golongan Ansar dan tanda-tanda nifaq pula adalah memarahi golongan Ansar” (al-Bukhariy, 2000).
  • Mengasihi Rasulullah SAW. lebih dari diri sendiri: Rasulullah SAW. bersabda yang bermaksud: “Demi diriku ditangannya tidak beriman seseorang kamu itu sehinggalah diriku lebih dikasihinya dari kedua ibu bapa dan anaknya” al-Bukhariy, 2000)

Daripada hadith di atas jelas menunjukkan bahawa cinta dan iman itu sangat berkait rapat. Justeru, cinta tersebut dilihat sebagai manifestasi iman itu sendiri. Ini bermakna jika perasaan cinta terhadap perkara-perkara tersebut berkurangan, ia menandakan kekurangan iman seseorang itu.

Dilema Si Jomblo

Perempuan dinikahi karena empat faktor: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka menangkanlah/pilihlah wanita yang mempunyai agama, maka engkau akan beruntung”

Apa yg dirasakanseseorang yang sedang menunggu pasangan hidup?. Bagaimana ia mengisi hari-harinya?.

Rasa galau dan cemas kerap menghinggapi kaum lajang, baik perempuan ataupun laki-laki dalam mencari/menanti jodoh. Usia yang merayap sedikit demi sedikit, hingga mendapati dirinya sendiri dalam bilangan tiga puluhan, tetapi pasangan tak kunjung tiba. Sementara melihat teman dan karib rata-rata sudah memiliki dua bahkan tiga momongan, bahkan mereka; teman ataupun kolega kerap membuat telinga menjadi merah karena selalu saja lintas pertanyaan tak pernah sepi menyapa, bertanya tentang status diri “Kapan akan menikah?”. Orang tua pun ikut prihatin, selalu bertanya pula, “Kapankah nanda akan melepas masa lajang?”, seakan tak memahami bahwa kegalauan dan kecemasan yang menyelimuti sang anak melebihi kekhawatiran mereka. Belum lagi predikat dan cap yang cukup menyakitkan mereka sematkan bagi kaum lajang.

Jodoh sebagaimana ajal, kematian dan rizqi merupakan rahasia yang hanya Allah lah yang memilikinya. Ia merupakan misteri dalam perjalanan hidup manusia. Semua manusia ingin rute kehidupannya ia jalani dengan lancar, normal, smooth, seperti halnya yang lazim terjadi. Idealis memang, ketika seseorang mengharapkan jodoh yang tepat di waktu yang tepat, jodoh yang agamis, paras yang rupawan, pendidikan yang lumayan, dari nasab dan golongan bangsawan. Mungkin itu cita-cita dari setiap muda/mudi yang berpikir tentang pernikahan. Tapi idealisme sering tidak sejalan lurus dengan realita. Ketika usia masih muda belia, 20 an, seabreg idealisme mewarnai corak kehidupan dalam mencari jodoh, tetapi lambat laun corak itu semakin memudar bersama dengan menuanya usia. Hal ini lebih banyak di rasakan oleh para wanita, karena perasaan yang lebih dominan, dibanding dengan kaum laki-laki yang lebih tegar, terkesan cuek, dan tidak menjadikannya sebuah masalah. Tapi tidak bagi kaum wanita.

Ketika semua usaha telah dilakukan dari minta dicarikan oleh kawan, guru, ataupun karib kerabat, tetapi belum berhasil pula, sementara hari demi hari menambah usia ini semakin senja. Penawaran diripun telah dilakukan, tetapi jawaban penolakan yang datang dari pihak sebelah, rasa sakit hati sedikit mengganggu diri. Apa daya?!. Pesimispun menghampiri.
Tidak. Karena usaha haruslah kita sertakan tawakkal, penyerahan total dalam hasil kepada Allah, Dzat Yang Maha Kuasa. Kemudian Bergabunglah dengan kami di Satukancinta.com

Kapan Aku Menikah ?


Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage.” 
― Lao Tzu

Islam mensyari’atkan pernikahan untuk membentuk mahligai keluarga sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan hidup. Islam juga mengajarkan pernikahan merupakan suatu peristiwa yang patut disambut dengan rasa syukur dan gembira. Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tatacara ataupun proses sebuah pernikahan yang berlandaskan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih.

Di dalam Fiqh para ulama menjelaskan bahwa menikah mempunyai hukum sesuai dengan kondisi dan faktor pelakunya. Hukum tersebut adalah (As-Sayyid Sabiq, 1973:15):

  1. Wajib
    Bagi orang yang sudah mampu menikah, nafsunya telah mendesak dan takut terjerumus dalam perzinaan, maka ia wajib menikah. Karena menjauhkan diri dari perbuatan haram adalah wajib
    Allah berfirman dalam QS An-Nur 33:

لْيسشََََُِِِِِّْ َّيْغَِ َِِِْ و َ َتعفف الين ل يدون نكاحا حت ُ نيم ا َّ ُل من فضله
ًَََ

Artinya : “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.”

  1. Sunnah
    Bagi orang yang nafsunya telah mendesak dan mampu menikah, tetapi masih dapat menahan dirinya dari perbuatan zina, maka sunnah baginya menikah. Nikah baginya lebih utama daripada bertekun diri beribadah.
  2. Haram
    Bagi seseorang yang tidak mampu memenuhi nafkah batin dan lahirnya kepada istri serta nafsunyapun tidak mendesak, maka ia haram menikah.
  3. Makruh
    Makruh menikah bagi seseorang yang lemah syahwat dan tidak mampu memberi belanja kepada istrinya. Walaupun tidak merugikan istri, karena ia kaya dan tidak mempunyai keinginan syahwat yang kuat
  4. Mubah
    Bagi orang yang tidak terdesak oleh alasan alasan yang mengharamkan untuk menikah, maka nikah hukumnya mubah baginya.

Sumpah Pemuda Atas Nama Cinta

“It is not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages.” 
― Friedrich Nietzsche

Suatu malam Dewi bermimpi:

Ia dibonceng Albert bersepeda

Lepas gembira melewati sawah dan bukit. Inikah pertanda mulai bersemi cintanya?

Semakin lama semakin deras perasaan sayangnya, Tapi sejak mulai disadarinya juga:

Mereka berlainan agama.

Siapa gerangan yang akan memisahkan cinta remaja?

Mengenali perasaan cinta saja belum dapat membuat kita mampu mencintai karena kita seringkali salah dalam mengartikan perasaan cinta kita. Seorang anak bisa merasa orangtuanya tidak mencintainya ketika memaksa dirinya untuk pergi ke dokter gigi yang sangat ia benci. Padahal orangtuanya melakukan hal tersebut dengan penuh cinta supaya anaknya dapat segera sembuh.

Orang-orang yang sedang jatuh cinta mempunyai kadar cinta yang berbeda-beda, ada yang sangat intim dan mesra, tetapi tidak jarang terlihat pasangan tersebut sering bertengkar bahkan ada yang bercerai walaupun sudah menikah. 

Menurut Sternberg (1988), cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepriba- dian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Kisah pada setiap orang bera- sal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, apa- kah dari orang tua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan.

Maka sejatinya cinta tetaplah harus menapak naluri berlandaskan logika.

Bolehlah kita terbuai oleh sebuah rasa atau terhanyut dalam kebahagiaan yang dihadirkan hormon endorpin dari sebuah kata cinta tetapi tetaplah ingat bahwa keputusan atas nama cinta tanpa komitmen akal hanya akan menguap dan hilang.  Janji janji atas nama cinta tanpa saksi hanya akan saling menyakiti. Hingga Ikrar Sumpah atas nama cinta tanpa keimanan hanya akan berakhir tanpa kenyamanan.  

Tahap Tahap Cinta

Pacaran yang dijalankan oleh kedua individu bukan hanya sekedar perasaan saling menyukai, tetapi bagaimana kedua individu tersebut dapat saling berbagi dan menerima keadaan satu sama lain.

Abraham Maslow berpendapat, individu yang menjalankan pacaran akan mendambakan hubungan yang penuh kasih sayang dan cinta kepada orang lain dan individu akan berusaha untuk mencapai hubungan tersebut. Jika dikaitkan dengan teori psikoseksual dari Sigmun Freud, masa-masa pacaran termasuk pada tahap kelima yaitu tahap genital yang fokus pada kematangan alat reproduksi individu.


Menurut Ibn Taymiyah (1978) cinta mempunyai tahap-tahap tertentu.

Tahap paling awal disebut sebagai al-‘Alaaqah, kemudian diikuti oleh al-Sababah, al-Gharam, al-‘Isyq dan yang tertinggi adalah al-Tatayyum.

Al-‘Alaaqah merujuk kepada hubungan hati terhadap perkara yang dikasihi. Sementara al- Sababah pula berkaitan dengan perasaan halus yang cenderung kepada sesuatu perkara itu. Manakala al-Gharam pula bermaksud cinta yang berterusan terhadap sesuatu.

Al-‘Isyq pula adalah kebergantungan hati terhadap sesuatu yang dicintai. Peringkat yang tertinggi iaitu al-Tatayyum pula bermakna menghambakan diri sepenuhnya terhadap sesuatu yang dikasihi itu (Ibn Taymiyyah 1978).

Dalam konteks ini al-Tatayyum adalah sama erti dengan istilah al-Ta’abbud (Ibn Abi al-Izz 1987). Selain dari itu terdapat juga istilah-istilah lain yang dikaitkan dengan cinta. Antaranya adalah seperti istilah al-Syaghaf (Ibn Abi al-Izz 1987). Ia merupakan perasaan cinta yang sampai ke penutup pintu hati. Maksud ini disebut oleh Allah di dalam surah Yusuf, ayat 30 yang bermaksud:


Sesungguhnya cintanya terhadap anak muda itu (nabi Yusuf a.s) adalah sangat mendalam”.

Problematika Cinta

Mencintai dan dicintai adalah rangkaian aksi dan sebuah harapan yang menjadi satu melebur dengan sebuah perasaan yag sering kita gaungkan sebagai cinta. Ada yang mengatakan sepasang hati yang telah terpaut cinta merasa dunia bagaikan mabuk tak sadarkan diri. 

Cinta bukanlah satu topik perbincangan yang baru dalam kalangan Sarjana. Terdapat banyak penulisan yang dihasilkan tentang cinta sepanjang sejarah dari zaman kuno hingga ke zaman moden. Walau bagaimanapun kajian saintifik tentang cinta hanya bermula pada kurun ke 20 (Stenberg, 2015). 

Menurut konsultan hubungan Sheryl Paul, MD dikutip dari Huffington Post, banyak pasangan terjatuh dalam lubang permasalahan yang sama setiap hari karena mereka tidak tahu bagaimana komunikasi harusnya dibangun. Lantas, apa sebenarnya yg seharusnya diperbaiki ?

Cinta telah dilihat sebagai satu elemen modern yang bertanggungjawab sebagai permulaan bagi sesebuah hubungan intim dan seterusnya membawa kepada pembentukan keluarga (Malta, 2013). Stenberg menjelaskan bahawa komponen terpenting dalam cinta di antaranya adalah ghairah dan keintiman. 

Maka sejatinya jika terjadi permasalahan perihal cinta terutama bagi sepasang suami istri tetaplah jaga komponen keintiman baik secara komunikasi maupun fisik. Maksudnya disini adalah tetaplah jaga dan rawat komunikasi dengan baik, dan jangan pernah bergantung kepada orang lain meskipun dia sahabat atau teman terdekat, tapi percayalah hanya dia patner kita,satu satunya yang sanggup dan layak menjadi tempat bersandar curhat berbagi. Karena konteks curhat adalah tentang intimacy. Curhat adalah zona pinte pertama sebuah intimacy dan privasi hati seseorang. Meskipun kita hanya curhat tentang masalah belanja bulanan fisik yang menurutkita gak penting. Tetapi ketika kita curhat sembarangan, bukan pada tempat yang tepat. Maka komunikasi merenggang dan kesalahfahaman semakin menganga lebar. 

Mengenal Hati Sang Cinta

Mengenal cinta adalah perjalanan yg Takan pernah berakhir tanpa memberikan kenangan

Cinta adalah anugerah Ilahi. Cinta punya bahasanya sendiri. Selalu bergerak dari hati ke hati, yang nada mistisnya hanya cinta yang mengetahui. Karena itu, bila ada cinta di hati yang satu, pasti ada cinta di hati yang lain lagi. Demikian menurut sebait puisi Persia.

cinta terlalu sulit untuk didefinisikan, karna cangkupanmaknanya yang terlalu luas dan tak terbatas. Cinta berhubungan denganemosi, bukan dengan intelektual seseorang. Perasaan lebih berperandalam cinta daripada proses intelektual. Walaupun demikian cinta dapatdiartikan sebagai keadaan untuk saling mengerti secara dalam danmenerima sepenuh hati

Bersatu dengan orang lain adalah kebutuhan terdalam dari setiap manusia, kata Erich Fromm. Basis kedekatan adalah komunikasi. Karena setiap manusia sudah mengalami ketersendirian, maka mereka merindukan bisa bersatu dengan orang lain melalui cinta.

Menurut Eric Form untuk mengenal pasangan kita lebih dekat serta mencintainya lebihd dalam maka konsep cinta itu harus terdiri dari 4 unsur yaitu:
○ Care (perhatian); sangat diperlukan dalam prilaku yang disebutcinta agar dapat memahami kehidupan, perkambangan majumundur, baik burut, dan bagaimana kesejahteraan objek yangdicintai.
○Responsibility (tanggung jawab); tanggung jawab diperlukandalam menjalin hubungan. Sebab tanpa adanya tanggung jawabtidak akan ada pembagian yang seimbang. Tanggung jawab disinibukanlah untuk mendikte objek yang dicintai sekehendak kita, tapibagaimana keterlibatannya dalam kehidupan objek yang dicintai.
○Respect (hormat); hal ini menekankan bagaimana menghargaidan menerima objek yang dicintai apa adanya dan tidak bersikapsekehandak hati.
○Knowledge (pengetahuan); pengetahuan diperlukan gunamengetahui seluk beluk yang dicintai. Dengan demikian kita dapatmembidik target yang kita incar, dengan kata lain tak kenal makatak sayang. Bila objek yang kita bidik itu adalah manusia, makaharus kita kenali dan pahami bagaiman kepribadian

Tidak selayaknya seseorang menyepelekan dalam memilih sahabat, karena persahabatan memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi seseorang. Persahabatan dan cinta adalah kunci bahagia.

Rumah tangga bagaikan surga
Bila suami istri suka sekata.
Suami istri cinta agama
Perkawinan mereka akan sentosa.

Suami istri suka mengaji
Silang sengketa sukar terjadi.
Suami istri suka belajar
Silang sengketa akan terhindar.
(Sulaiman Yusuf)